on Minggu, 20 Juli 2014
Salah satu pertanyaan eksistensial yang seringkali muncul adalah; Apa sebenarnya yang dicari dari hidup kita didunia? Banyak orang bijak telah menyampaikan pendapatnya. Ada yang berpendapat tujuan adalah sebisa mungkin menghindari penderitaan. Ada yang berpendapat bahwa kehidupan duniawi adalah untuk kehidupan yang lebih kekal kelak yang kemudian pendapat itu berkembang dengan segala rupa cabang.

Yang paling “mudah” untuk melihat dunia adalah melihat yang tampak, terlihat. Meskipun pada akhirnya yang tampak tersebut bisa dielaborasi sedemikian rupa sehingga ada pemaknaan yang lebih, tetapi sepertinya hanya segelintir orang yang menyadarinya dan bersusah payah mengambil makna dari setiap persinggungannya dengan sesuatu yang tampat tersebut. Dan manusia kemudian dianggap sebagai bagian dari sesuatu yang tampak tersebut. Meskipun adapula yang menganggap manusia merupakan sesuatu yang terpisah dari yang tampak karena manusia adalah subyek yang memaknai sesuatu. Keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda tentu saja.

Saya lebih suka menempatkan manusia pada wilayah terpisah dari sesuatu yang tampak tersebut. Dengan demikian kita mengakui bahwa manusia sebenarnya memiliki sesuatu yang tak tampak dan itu lebih esensial daripada sekedar yang tampak pada diri manusia. Itulah yang disebut dengan fitrah yang kemudian berwujud dalam rupa yang lebih sederhana dalam hati dan akal. Manusia memiliki sesuatu yang dengannya manusia bisa dianggap tidak sekedar apa yang tampak padanya. Meskipun kemudian disadari bahwa sisi yang tak tampak tersebut bisa berubah sifat menjadi merusak. Pada tahap inilah, ada esensi yang lebih dalam dari hal-hal yang tidak tampak tersebut, yang dengannya manusia bisa mengendalikan apa-apa yang ada padanya. Itulah yang dinamakan kehendak. Dengan demikian, maka manusia bukan benda-benda, tetapi manusialah yang mendayagunakan benda-benda tersebut untuk kepentingannya. Manusialah yang akan memanfaatkannya agar kehidupannya menjadi lebih baik, dimana ukuran lebih baik disini terkait erat dengan sistem nilai yang dianut.

Selanjutnya memang akan berbalik kembali pada sesuatu yang tak tampak pada manusia tersebut. Kepentingan manusia tersebut seperti binatang buas yang apabila tidak bisa ditaklukkan akan berdampak liar memangsa buruannya. Dan manusia, dengan segala yang ada padanya, mampu membuat sangkar yang kuat untuk menjinakkan binatang buas tersebut. Membuat sangkar tersebut menjadi sebuah sistem nilai atau menempatkannya pada sistem nilai yang lebih besar. Sistem nilai tersebut adalah buah dari kesadaran manusia bahwa memang ada sisi-sisi dalam yang tak tampak pada manusia yang perlu dijinakkan.

Permasalahan lebih besar kemudian muncul jika binatang-binatang buas tersebut muncul secara bersamaan sehingga tentu saja diperlukan sangkar yang lebih kuat untuk menjinakkannya. Kolektivisme binatang buas tersebut itulah yang disebut dengan kerusakan moral masyarakat. Artinya, akal dan hati lah yang akan mencegah kerusakan moral tersebut.

Dengan ancaman kerusakan kolektif dan perendahan atas harkat kemanusiaan, karena ketundukkannya pada hal-hal yang semata tampak, maka akal dan hati ibarat suatu penengah dalam suatu kekacauan. Mencarinya, untuk mendengarkannya, tentu saja menjadi suatu usaha yang harus terus menerus dilakukan selama manusia masih tampak terlihat oleh penglihatan. Artinya, penangkapan oleh indera atas suatu wujud manusia memang tidak serta merta ditanggapi dengan apriori. Ibarat sebuah pedang, maka pedang itulah diperlukan untuk melawan musuh, karena memang musuh tersebut tidak bisa dilawan dengan bertangan kosong. Entah apa pendapat masing-masing individu tentang kehidupan setelah di dunia kelak, mencari dan mendengarkan kejernihan hati dan pikiran adalah jalan untuk membuktikan ke”manusia”an kita selama kita hidup didunia.
on Selasa, 25 Februari 2014
Sakit, jika kita merujuk definisi sederhana adalah keadaan tidak nyaman ditubuh, yang kemudian meluas definisinya, diantaranya sakit jiwa untuk tidak “nyaman’ dijiwa dan sakit hati untuk ketidaknyamanan di hati. Sakit adalah suatu keadaan. Sebagaimana lazim dalam ke”ada”an, ia ada karena sesuatu. Seperti sakit flu, yang ia ada karena sebab misalnya berhari-hari kehujanan saat pulang kerja.

Sebagaimana lazim pada suatu kondisi tidak nyaman, sakit biasanya dihindari dan kalau perlu dicegah. Segala hal-hal penyebab yang menjadikan ia ada dijauhi. Bahkan seringkali melakukan langkah ekstra agar sakit tak hinggap menyerang, seperti minum multivitamin, suplemen dan yang serupa dengannya.

Satu hal yang biasanya dianggap hikmah saat sakit menyerang adalah betapa berharganya kesehatan. Sesuatu yang tak jarang kita sepelekannya karena seringnya ia “hadir” pada kita. Intensitas kehadirannya seringkali melenakan, sehingga seringkali kita tak menyadari bahwa ia ada dan ia lah salah satu yang menyangga aktivitas dan realitas kita. Oleh karenanya penyadaran atas realitas ini penting agar kita menjadi manusia yang tahu arti kata terima kasih dan menghargai setiap kehadiran kesehatan. Kesehatan ini, pada saat sakit menjadi semacam kenangan. Semakin kuat kenangan ini tertanam, maka saat sakit biasanya juga akan semakin kuat pula keinginan untuk sembuh meski bisa pula sebaliknya akan semakin terpuruk ia ketika rasa sakit itu hinggap. Intinya, kenangan yang kuat tersebut akan membuat si penderita sakit berada pada dua titik ekstrim.

Sakit juga berarti bahwa manusia memang bukan makhluk kuat sepenuhnya. Ia hanya bisa merekayasa keadaan berupa penghindaran atau pencegahan dengan akal dan budinya. Manusia adalah makhuk lemah tentu saja dan sakit bermanfaat untuk menyadarkan kelemahan kita tersebut, sehingga saat ia datang keterlibatan kita dalam “menyambutnya”menjadi penting ia bukan hanya muncul dalam konsep dan kata tetapi juga makna. Seperti kondisi sakit dalam berbagai keadaan susah senang akan berbeda dengan makna tersebut. Inilah yang oleh sebagian orang menyatakan bahwa manusia memang membutuhkan sakit agar ia menjadi semakin kuat setelah sakit hilang.

Tak berbeda dengan rasa sakit yang lain, seperti sakit hati. Hati yang mudah berbolak-balik arah ini seolah menjadi misteri tersendiri dan oleh karenanya juga rentan terserang rasa sakit. Dan celakanya, dalam sakit hati, kegiatan penghindaran dan pencegahan seringkali diabaikan. Hal ini karena euforia kesehatan yang sering hinggap dalam bentuk dimabuk rasa dan keegoisan diri. Sakit hati yang semacam ini bisa jadi oleh sebab luar atau sebab dalam diri kita. Oleh sebab luar inilah yang seringkali tidak bisa kita bendung dan datangnya bisa jadi tiba-tiba. Ia biasanya terjadi karena sebab hubungan interpersonal yang kita jalani. Kita bisa maklum atau kalau perlu melawan. Sakit hati yang berasal dari dalam diri adalah sakit hati karena sebab kita melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan sakit hati itu muncul. Ia bisa berupa keegoisan diri. Sakit disini bermanfaat untuk menyadarkan bahwa ia sesungguhnya makhluk yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia bisa jadi berasal dari perlawanan orang lain atau muncul dari dalam dirinya sendiri sebagai hasil, misalnya perenungan akan keberadaannya.

Keegoisan diri membuat pintu kemungkinan-kemungkinan terburuk menjadi seolah tertutup dan tidak disadari, padahal ia ada yang siap meledak saatnya tiba. Egois berarti menjadikan dirinya sebagai pusat sehingga cenderung abai pada kelemahan-kelemahan yang pada saat ia sedang berposisi tinggi ia, kelemahan-kelemahan ini menjadi minoritas yang suaranya jarang didengarkan. Itulah mengapa, si egois sedang berusaha membuat bangunan besar yang rapuh pondasinya. Dan saat ia tak juga menyadarinya, celakalah ia.

Pada saat sakit semacam ini menyerang obat terbaik adalah meruntuhkan keegoisan diri, dengan kata sakti “maaf”. Syukur jika masih ada waktu. Jika tidak, maka tak ada jalan lain selain mengakrabi rasa sakit itu. Pada awalnya memang menyakitkan, karena muncul suatu keadaan yang memang sangat susah hilang, yaitu penyesalan. Tetapi jika kita perhatikan lebih mendalam, sesungguhnya inilah indahnya manusia, yang kata orang dengan rasa sakit ini kehidupan menjadi lebih berwarna. Dan seperti yang dijelaskan diatas, jika terdapat kenangan yang kuat saat indahnya dimasa sehat, maka keterpurukan menjadi dua titik yang ekstrim dan bisa menjadikan si sakit menjadi terpuruk kondisinya.

Pada akhirnya tak ada jalan lain memang selain menghadapi sakit dengan rasa bangga. Dengan dengan pemaknaan, maka dengan sakit ini akan menguatkan kita. Seperti petinju yang memerlukan dipukul agar ia tahu kelemahan dirinya, sakit apapun itu hendaknya dipahami sebagai sarana menaikkan kualitas kemanusiaan kita. Apalagi jika ini mengenai hati, yang dengannya kualitas kebaikan kita dimanifestasikan. Menjadikan hati “berdialektika” bermanfaat untuk menjadikannya lebih tajam dalam menghadapi realitas yang membutuhkan rasa dalam keterlibatan diri kedalamnya...
on Senin, 20 Januari 2014
Salah satu tokoh dari teori ketergantungan adalah Andre Gunder Frank, seorang ekonom Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa “….Kapitalisme, baik yang global maupun yang nasional, adalah faktor yang telah melahirkan keterbelakangan di masa lalu dan yang terus mengembangkan keterbelakangan dimasa mendatang”.

Pada tahap ini berbeda antara marxis dengan penganut ketergantungan. Jika marxis menganggap kapitalisme akan melahirkan kemakmuran sekaligus penindasan yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat sosialis yang salah satunya oleh kaum Bolsyewik dilakukan dengan jalan revolusioner, maka ketergantungan justru menganggap kapitalisme sebagai biang keladi keterbelakangan.

Frank dalam teorinya mengembangkan konsep dari Prebisch mengenai negara pusat dan pinggiran yang lebih menekankan pada aspek politis antara modal asing di negara-negara pinggiran (satelit). Dalam rangka mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, pemilik modal asing ini bekerjasama dengan pemerintah dan kaum borjouis lokal sehingga memunculkan kebijakan-kebijakan yang memihak pada pemilik modal tersebut yang mengorbankan kepentingan masyarakat luas. Sehingga ada tiga aktor utama dalam pembangunan, yaitu modal asing, pemerintah dan borjuis lokal. Dan selanjutnya bisa ditebak, bahwa kegiatan perekonomian kemudian menjadi “tergantung” dan memunculkan ketimpangan yang lebar dalam masyarakat negara tersebut. Borjuasi lokal atau dalam istilah kita adalah pengusaha nasional, dalam kondisi ketergantungan menjadi tidak berarti karena adanya mereka adalah dalam rangka untuk kepentingan asing. Akumulasi modalpun akan lari ke pemilik asing sehingga bisa dikatakan pertumbuhan ekonomi negara yang tergantung tersebut menguntungkan negara pusat sebagai pengekspor modal.

Disisi lain, anjuran bedikari seolah hanya menjadi slogan saja. Membangun industri di negara pinggiran bukan perkara mudah, karena teknologi dan pasar sudah dikuasai oleh perusahaan multinasional yang telah mapan. Pentahapan menuju masyarakat sosialis juga tidak berlaku disini, karena negara penggiran seringkali adalah negara kapitalis tanpa melalui tahapan feodal dan revolusi borjuis. Karena memang kaum borjuis telah dimapankan oleh kerjasama semu dengan pemilik modal. Oleh karenanya bagi Frank, keterbelakangan hanya bisa diatasi melalui revolusi yang melahirkan sistem sosialis, karena memang tidak mungkin ada perkembangan bagi negara satelit selama negara satelit tersebut masih menginduk ke negara pusat (metropolis).
on Rabu, 11 Desember 2013
Tak bisa dipungkiri, bahwa semangat itu naik turun meskipun tak pernah padam. Setiap masa yang terlewati memberikan pelajaran dan makna berharga yang seharusnya tidak hilang begitu saja. Meski pernah suatu masa dirundung sesal, maka kedepan seharusnya penyesalan seperti itu bisa antisipasi.

Mungkin aku tak segarang kawan-kawan, terlalu pengecut untuk bisa disebut bergerak. Jargon-jargon tak dipungkiri memang membuat semangat dan keinginan itu membuncah kembali. Tetapi apa yang bisa kulakukan? Tak bijak memang jika harus menyalahkan keadaan. Keadaan tentu saja tidak salah dan tidak akan salah. Memang harus diakui aku ini masih pengecut, tidak cukup nyali membuat adrenalin ini bersorak sorai menghadapi ketakutan akan kenyataannya.

Hal itu tidak boleh terjadi sebenarnya. Demi masa dan demi yang menimpa siapapun juga, kearifan harus senantiasa dibangun dari kenyataan. Dengannya tangan-tangan Tuhan bekerja. Tuhan itu Maha Benar. Bagaimana tangan Tuhan bekerja tidak pernah salah. Dan belajar darinya bisa membuat kita semakin cerdas, kurasa..  Itulah yang seharusnya ada pada “diri” ini yang, sekali lagi seharusnya, selalu bisa merasakan, Tuhan itu sungguh dekat.

Dan pada akhirnya harus kuakui, jika aku masih terlalu takut sendiri..
on Selasa, 03 Desember 2013

Apa yang dicari sebenarnya, pasar ide ramai sekali disekeliling kita. Ada yang rumit serius adapula yang sederhana. Serius, istilah ini kudefinisikan dengan “lurus”. Tak ada permainan emosi, yang ada adalah logika dan rasionalitas, entah yang timbul dengan sendirinya atau dipaksakan. Dalam kasus rasionalitas yang dipaksakan, prakondisi telah dirasionalisasi sedemikian rupa sehingga masuk pula dalam kaidah berfikir kita. Apakah itu ada dalam dunia nyata? Entahlah.. Dalam keseriusan, konklusi selalu bisa diambil. Dan satu hal, seringkali serius tidak asik..

Lantas apapula sederhana itu? sederhana itu sesuatu apa adanya tetapi seringkali menggelitik logika. Seringkali sederhana bersanding erat dengan “menggelikan”. Dan menggelikan ini bisa dilihat karena kebodohannya bisa juga karena kejeniusannya. Bagi-bagi kondom pada pekan kondom itu sederhana menurut saya, sekaligus menggelikan..:)

Para konsumen ide tentu saja harus jeli atas kondisi yang terjadi. Jangan sampai karena kemasannya dibuat sedemikian indah sehingga akan menghilangkan substansi dan hakikatnya. Konsumsi akan ide yang paling pragmatis adalah harus melihat tujuan dari konsumen tersebut. Jika mampu mencapai tujuan maka ide bisa dianggap benar. Tapi apakah tujuan yang benar itu? Tentu akan banyak parameter yang bisa digunakan. Ideolog, agamawan atau bahkan para filsuf mungkin berbeda parameter tentang hal ini. Inilah sebenarnya yang penting untuk perhatikan dengan seksama, bahwa manusia, tentu saja selalu terkait dengan kondisi lingkungan sosial yang ada padanya. Jika demikian, maka hal esensial yang perlu dipahami kemudian adalah pencarian kebenaran itu sendiri dalam konteks sosial-kultural kemasyarakatan. Itulah mengapa suatu parameter kebenaran yang dihasilkan dalam suatu konsensus lebih bertahan lama daripada parameter yang dipaksakan.

Disisi lain terdapat pula yang dinamakan proses penciptaan. Inilah konsekuensi dari adanya akal budi manusia, bahwa manusia bersifat kreatif. Kreatifitas ini akan memunculkan penciptaan dan penemuan dan inilah yang membentuk perubahan. Bahwa selama manusia mencipta maka perubahan akan selalu ada.

Konsensus dan perubahan inilah yang seharusnya berjalan seiring. Bahwa perubahan hendaknya melalui konsensus dan konsensus ada juga untuk perubahan meski juga tidak semata-mata. Pada akhirnya dialektika wacana menjadi penting. Entah metode apapun yang dilaksanakan, yang penting harus didasari niat dari hari tulus untuk selalu mencari kebenaran (parameter). Dengan dengan adanya hati (dan juga emosi) inilah, dunia manusia menjadi lebih berwarna karena bisa menetralisir keseriusan kita sekaligus bukan tidak mungkin membawa ide pada kualitas menggelitik logika dengan caranya yang cerdas.

Dan pada akhirnya bisa dikata konsensus, perubahan dan ide, Itulah kata kunci bagi harmonisasi. Mudah sekali sebenarnya.. dan saya kita dengan konsensus pancasila dan bhineka tunggal ika, pendahulu kita adalah orang-orang yang sederhana, karena mereka jenius.. :)
on Jumat, 08 November 2013
on Rabu, 18 September 2013

Saat ini kau hanya bisa bilang saat itu. Waktu konon tak bersemayam dalam setiap diri manusia. Bukan sebuah materi, tetapi seperti halnya materi, yang dengannya pertentangan bisa bermula. Menyadari saat itu disaat ini kata orang terlambat, karena waktu tidak bisa berbalik. Menggilas dengan kejam manusia-manusia yang terlena, dan hingga saatnya tiba, waktu bisa menjadi pemicu pertentangan dalam dirinya; penyesalan. Hanya manusia yang mengenal dirinya yang mampu mensemayamkan waktu. Seperti udara yang bisa kita rasakan sewaktu menyadarinya, ia pun demikian. Terus berhembus, seolah yang ada (atau memang yang benar-benar ada?) adalah yang hinggap didepan keadaan kita.

Waktu lampau sudah tidak ada, berpindah dan bersemanyam, entah di dunia mana. Mungkin di dunia khayalan. Setiap manusia tentu saja mempunyai dunia khayalnya. Terkadang mengotak-atiknya, sehingga sesuatu yang memang tidak pernah ada menjadi seolah ada dan nyata. Karena, bukankah tak ada beda antara yang pernah ada dengan yang tak pernah ada di dunia khayal manusia. Dunia yang sangat indah bagi sebagian orang, karena ia bebas menciptakan apa saja.

Waktu mendatang tentu saja belum ada, dan belum pernah ada. Aktualisasi dunia khayal mendapat wilayah yang cukup lebar dan nyaman. Manusia bisa mengantisipasi sejarahnya.  Dan dengan kondisi-kondisi tertentu manusia tentu saja bisa merubah “waktu lalu” diwilayah ini. Menghilangkan rasa penyesalan hingga akhirnya ia terbebas dari belenggu khayalan. Proses penciptaan yang dramatis, karena memang manusia adalah makhluh yang berkendak.

Dengan waktu  manusia bisa berubah. Pembacaan waktu dengan bijak bisa memunculkan apa yang dinamakan hikmah. Hikmah bukan candu. Menjadikan hikmah sebagai pembenaran akan kelemahan bisa membawa kearah stagnasi yang memabukkan. Kelemahan bisa menjadi pembenar atas segala kenyamanan. Bisa jadi ia adalah kompromi dua kutub yang berseberangan. Dan waktu.. seolah ia berdiri disuatu tempat yang rapat, mengamati kita dengan sunyumnya...
on Kamis, 05 September 2013
Bertanyaku dan aku ingin terus bertanya
Bukan hanya tentang siapa aku..
tetapi juga ingin kutemukan maksud dalam ketiadaanku

Jika jalan menanjak berliku yang harus kugapai..
aku rela sebenarnya
Akan kudaki sampai habis bukit itu kujelajahi
Tapi jika itu hanya semisal pencarian jati diri..
terbata aku dan aku sedikit bimbang menimbang saran
Karena dengan adaku, aku sebenarnya tiada dan..
puncak bukit itu sepertinya tak berada dimana-mana

Pada saatnya kelak aku tak ingin sekedar tahu maksud keberadaanku ini
Kata orang ini melelahkan
Tapi jika ia benar adanya, biar peluhku menjadi saksi dan...
semoga mampu mengikis kesombonganku
Kenistaan menjadi penghalang bagi kemesraan
Dan pada akhirnya..
dengannya aku ingin benar menyadari jika aku bukan siapa-siapa

Tentang menjadi mungkin hanya pelampiasan ego diri
Sarana diantara kuasa masa menyingkap tabir fana
Jika ini hanya persinggahan...
aku ingin menjalaninya dengan anugerahku sebagai manusia
Meski kuyakin benar ini bukan tujuan
Tetapi aku tetap bersyukur karena inilah kita berdekatan
Mungkin memang belum pantas aku mengerti..
dan karenanya aku mulai sadari
Sesungguhnya aku bersyukur atas tanyaku ini


disuatu sore dipinggir pantai
on Senin, 02 September 2013
Ya atau tidak sama sekali. Terkadang memang tak ada jalan tengah, dan mengharuskan memilih antara dua sisi yang bertentangan. Jalan tengah memang mengenakkan, cenderung aman dan sedikit, mungkin, memuaskan. Tapi apalah arti sisi-sisi kalo seandainya harus dipilih jalan tengah?? Satu sisi terkadang lahir tidak untuk berkompromi, meski godaan pragmatis selalu ada. Sisi-sisi lahir untuk memberi pilihan, sebuah pilihan yang seringkali ada untuk dimodifikasi, disintesa sedemikian rupa sehingga melahirkan sisi-sisi yang lain, entah reproduksi yang bernuansa pertentangan atau hanya omong kosong belaka. Pilihan selalu ada kata mereka, tapi tidak untuk sisi yang ekstrim, begitulah kata sang pemuja kejumudan.

Sisi seringkali mengalami ironi-ironi stagnasi, yang dikomoditaskan atas nama kebebasan. Dengung perubahan selalu memberi harapan, tapi mungkin saja tidak bagi sisi. Ia terkadang memiliki dunia sendiri, dengan kamuflasenya yang sangat kreatif, sebuah proses rasional yang seringkali menjebak pada ketidakrasionalan masal, entah karena persepsi, pencitraan, atau bahkan mungkin adu domba khas kolonial. Sisi bukan semata-mata pilihan, karenanya ia harus berpihak pada fitrah keberpihakan keadilan. Subjektif, tapi jusru itulah arti kemanusiaan bisa berwujud, dan karenanya bisa dipahami. Sisi adalah tujuan pilihan yang semoga saja rasional. Sisi lain katanya selalu ada, meski hanya satu sisi yang diakui kebenaran. Tapi bukankah tak ada kebenaran yang abadi?? Sisi terkadang berkonfrontasi dengan waktu, dengan kultur, dan pada akhirnya menjadi sejarah yang hanya dibaca dibuku pelajaran dan bisa jadi hanya pajangan. Memahami sisi bukan hanya bermimpi, tapi lebih dari itu, menjadi nyata untuk membawanya pada realitas yang sesungguhnya, begitulah mungkin produksi sisi bermula. Ia menjadi lemah karena tidak menarik, menjadi lemah karena represif penguasa, atau bahkan menjadi lemah hanya gara-gara hasutan tak berdasar. Tapi sisi tetap sisi, selalu menarik untuk disetubuhi, hingga akhirnya kita sadar, ekstrimism adalah suatu keniscayaan.
Malam itu, Marie singgah ke tempatku. Ia bertanya apakah aku ingin menikahinya. Kujawab aku tak keberatan dan kami bisa melakukannya jika ia menginginkan. Ia juga ingin tahu apakah aku mencintainya. Kujawab seperti yang pernah kukatakan bahwa itu tak berarti apapun tapi aku mungkin tidak begitu.

“Lantas kenapa mau menikahiku?” tanya ia. Kujelaskan itu bukan masalah dan jika ia menginginkan  dan kujawab saja ya. Ia melanjutkan bahwa pernikahan adalah soal serius. Kusahut tidak. Ia tak berkata apapun untuk sesaat dan memandangiku dengan diam.

Lalu ia bicara. Ia hanya ingin tahu apakah aku menerima ajakan yang sama jika berasal dari wanita lain yang menjalin hubungan denganku. Kujawab, “Tentu saja.” Ia melanjutkan, dirinya bertanya-tanya apakah mencintaiku dan kukatakan aku tak tahu tentang itu. Satelah sunyi sebentar, ia menggumam bahwa aku aneh dan mungkin itu sebabnya ia mencintaiku, tapi suatu hari mungkin aku memuakkan untuk sebab yang sama. Aku tak berkata apapun karena tak ada yang perlu ditambahkan.  Ia tersenyum, meraih tanganku dan mengatakan ingin menikahiku. Kujawab kami akan melakukannya kapanpun ia mau.

 (dikutip dari Sang Pemberontak, Albert Camus)

……..
Dengan masih menggenggam sepucuk surat ditangannya, Rani berjalan keluar dari Gedung Rektorat. Berkeliling sebentar, ia bersandar di tempat duduk rindang disamping gedung megah itu. Setelah semua urusannya selesai ia ingin segera membaca surat ditangannya yang diberikan Ardi tadi di dalam gedung. Rasa ingin tahu masih bergelayut. Ia mulai membuka dan membaca…


Sebenarnya

Aku sebenarnya ingin mempercayaimu. Bukan hanya karena engkau adalah kekasihku, tetapi lebih dari itu.. bahwa aku sesungguhnya sedang berhasrat untuk memupus keinginan egoku bahwa akulah yang senantiasa benar. Jika aku pada suatu waktu pernah berkata tentang sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan, percayalah bahwa itu sesungguhnya bukan maksud dan hasratku berkata demikian, melainkan hanya upayaku saja untuk berkawan pada kejujuran. Dan pada akhirnya, tak bisa kupungkiri aku memang berharap kau mempercayaiku.

Mungkin kau bilang aku hanya mau menang sendiri, hanya menuntut tapi tak mau bersusah payah dengan  kepatutan. Seperti timbangan yang seharusnya berimbang seimbang, tanpa sela kecurangan. Atas hal itu, akupun mengerti sebenarnya.  Hanya entah mengapa sekujur tubuh ini dibuat kaku oleh hal-hal yang tidak aku pahami. Mungkin suatu saat nanti kau bisa memberitahukanku apa itu sebenarnya.

Aku sebenarnya juga tidak ingin menyakitimu. Jika ada ucap dan langkah yang tak berkenan, aku berharap kelapangan hatimu. Hanya saja aku malu. Berkali kuucap maaf dan berkali pula maaf itu hilang tanpa arti untuk apa ia sebenarnya ada. Dan anehnya lidahku tanpa kelu selalu berucap, sungguh tak tahu malu. Kini maaf itu seperti kata tanpa makna, karena begitu mudahnya ia bertabur kesana kemari. Mungkin maaf itu kini seperti pasir di pantai. Dan jika memang begitu adanya, kurasa kau pantas mengambil segenggam dan kau lempar ke mukaku sampai aku kehabisan kata-kata.

Mungkin perlu kuulangi lagi, sebenarnya aku tak ingin menyakitimu. Aku masih ingat ketika kau bilang berpasangan adalah tentang saling. Saling berbagi, saling menyayangi, dan saling saling yang lain, yang dengannya kita, yang memiliki dua eksistensi ini, pada akhirnya bisa lebih dari bersama, meski terlalu muluk juga jika kusebut menyatu. Aku dan kamu berbeda itu sudah pasti. Dan kita punya cita-cita itu juga mahfum adanya. Tapi aku benar-benar tak habis pikir, mengapa aku bisa sebebal itu, tak melibatkan kau dalam dunia yang aku ciptakan di otak pandirku.

Kawan bilang ini tentang ego. Entah apa maksud ego itu, tetapi yang ada dikepalaku sekarang adalah sebenarnya aku ingin membuktikan rasa sayangku padamu. Aku ingin mengingatkanmu untuk tak lupa makan ketika kau sedang sibuk dengan tugas kuliahmu. Aku ingin melukis wajahmu untuk lebih menyadari betapa cantik dirimu dimataku. Aku ingin bernyayi untukmu saat kau sedang sepi hati. Aku ingin selalu ada untukmu dan aku ingin mengecup keningmu sebenarnya..

Aku sebenarnya takut kehilanganmu. Ini bukan klise. Dan aku bingung juga sebenarnya, entah mengapa kata-kata ini sering muncul dilirik lagu seniman kita. Apa memang seniman kita sedemikian cerdasnya sehingga mampu menangkap sisi kejiwaan beribu pasangan ataukah aku yang sedemikian bodohnya sehingga begitu mudahnya termakan sugesti lirik yang berjejalan dipanggung absurd kita. Aaah..siapa pula yang membuat panggung itu. Entah…

Dan aku sebenarnya takut kehilanganmu. Mungkin kau ingat ketika beberapa lama kita tak berhubungan sama sekali. Mungkin kau pikir aku tak membutuhkanmu lagi. Bukan itu sebenarnya yang ada dibenakku. Aku sangat kesepian sebenarnya. Ada sisi kosong dihatiku jika kau tinggalkanku, karena aku sudah nyaman dengan hadirnya kau disisi-sisi itu. Dan aku berterima kasih padamu, kau mau singgah didalamnya meskipun mungkin itu bukan persinggahan yang nyaman bagimu. Jika kata orang lelaki terkadang perlu waktu menyendiri, sebenarnya itu tak sedang terjadi padaku disaat itu. Aku hanya malu pada kesabaranmu, pada besarnya pengertianmu padaku. Dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berterima kasih sampai sekarang kau setia menungguku, meski kutahu sebenarnya tangismu lebih banyak dari tawa riang hatimu.

Dan sayangku.. aku hanya ingin mengatakan aku benar menyayangimu. Jika dulu kau bilang aku peragu, percayalah sudah kupupus habis keraguan itu sekarang. Aku memang tak bisa menjanjikanmu apapun karena aku tidak punya apa-apa yang bisa dijanjikan. Sudah bisa kuliah dan karenanya bertemu denganmu itu sudah menjadi bagian indah dalam kenanganku kelak. Yang aku punya hanya satu sisi hati yang aku kosongkan untukmu yang mulai sekarang akan kubuat kau nyaman bersemayam didalamnya. Aku tak ingin kehilanganmu sebenarnya, tapi aku bukan apa-apa bukan pula siapa-siapa. Aku sadar sekarang, aku tak pantas berharap lebih darimu..

Salam,
Ardi

Dan untuk kesekian kalinya Ardi mampu mengaduk-aduk hatinya yang memang mulai bimbang. Ia yakin Ardi orang baik dan ia merasakannya. Tetapi……
…..