Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
on Selasa, 25 Februari 2014
Sakit, jika kita merujuk definisi sederhana adalah keadaan tidak nyaman ditubuh, yang kemudian meluas definisinya, diantaranya sakit jiwa untuk tidak “nyaman’ dijiwa dan sakit hati untuk ketidaknyamanan di hati. Sakit adalah suatu keadaan. Sebagaimana lazim dalam ke”ada”an, ia ada karena sesuatu. Seperti sakit flu, yang ia ada karena sebab misalnya berhari-hari kehujanan saat pulang kerja.

Sebagaimana lazim pada suatu kondisi tidak nyaman, sakit biasanya dihindari dan kalau perlu dicegah. Segala hal-hal penyebab yang menjadikan ia ada dijauhi. Bahkan seringkali melakukan langkah ekstra agar sakit tak hinggap menyerang, seperti minum multivitamin, suplemen dan yang serupa dengannya.

Satu hal yang biasanya dianggap hikmah saat sakit menyerang adalah betapa berharganya kesehatan. Sesuatu yang tak jarang kita sepelekannya karena seringnya ia “hadir” pada kita. Intensitas kehadirannya seringkali melenakan, sehingga seringkali kita tak menyadari bahwa ia ada dan ia lah salah satu yang menyangga aktivitas dan realitas kita. Oleh karenanya penyadaran atas realitas ini penting agar kita menjadi manusia yang tahu arti kata terima kasih dan menghargai setiap kehadiran kesehatan. Kesehatan ini, pada saat sakit menjadi semacam kenangan. Semakin kuat kenangan ini tertanam, maka saat sakit biasanya juga akan semakin kuat pula keinginan untuk sembuh meski bisa pula sebaliknya akan semakin terpuruk ia ketika rasa sakit itu hinggap. Intinya, kenangan yang kuat tersebut akan membuat si penderita sakit berada pada dua titik ekstrim.

Sakit juga berarti bahwa manusia memang bukan makhluk kuat sepenuhnya. Ia hanya bisa merekayasa keadaan berupa penghindaran atau pencegahan dengan akal dan budinya. Manusia adalah makhuk lemah tentu saja dan sakit bermanfaat untuk menyadarkan kelemahan kita tersebut, sehingga saat ia datang keterlibatan kita dalam “menyambutnya”menjadi penting ia bukan hanya muncul dalam konsep dan kata tetapi juga makna. Seperti kondisi sakit dalam berbagai keadaan susah senang akan berbeda dengan makna tersebut. Inilah yang oleh sebagian orang menyatakan bahwa manusia memang membutuhkan sakit agar ia menjadi semakin kuat setelah sakit hilang.

Tak berbeda dengan rasa sakit yang lain, seperti sakit hati. Hati yang mudah berbolak-balik arah ini seolah menjadi misteri tersendiri dan oleh karenanya juga rentan terserang rasa sakit. Dan celakanya, dalam sakit hati, kegiatan penghindaran dan pencegahan seringkali diabaikan. Hal ini karena euforia kesehatan yang sering hinggap dalam bentuk dimabuk rasa dan keegoisan diri. Sakit hati yang semacam ini bisa jadi oleh sebab luar atau sebab dalam diri kita. Oleh sebab luar inilah yang seringkali tidak bisa kita bendung dan datangnya bisa jadi tiba-tiba. Ia biasanya terjadi karena sebab hubungan interpersonal yang kita jalani. Kita bisa maklum atau kalau perlu melawan. Sakit hati yang berasal dari dalam diri adalah sakit hati karena sebab kita melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan sakit hati itu muncul. Ia bisa berupa keegoisan diri. Sakit disini bermanfaat untuk menyadarkan bahwa ia sesungguhnya makhluk yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia bisa jadi berasal dari perlawanan orang lain atau muncul dari dalam dirinya sendiri sebagai hasil, misalnya perenungan akan keberadaannya.

Keegoisan diri membuat pintu kemungkinan-kemungkinan terburuk menjadi seolah tertutup dan tidak disadari, padahal ia ada yang siap meledak saatnya tiba. Egois berarti menjadikan dirinya sebagai pusat sehingga cenderung abai pada kelemahan-kelemahan yang pada saat ia sedang berposisi tinggi ia, kelemahan-kelemahan ini menjadi minoritas yang suaranya jarang didengarkan. Itulah mengapa, si egois sedang berusaha membuat bangunan besar yang rapuh pondasinya. Dan saat ia tak juga menyadarinya, celakalah ia.

Pada saat sakit semacam ini menyerang obat terbaik adalah meruntuhkan keegoisan diri, dengan kata sakti “maaf”. Syukur jika masih ada waktu. Jika tidak, maka tak ada jalan lain selain mengakrabi rasa sakit itu. Pada awalnya memang menyakitkan, karena muncul suatu keadaan yang memang sangat susah hilang, yaitu penyesalan. Tetapi jika kita perhatikan lebih mendalam, sesungguhnya inilah indahnya manusia, yang kata orang dengan rasa sakit ini kehidupan menjadi lebih berwarna. Dan seperti yang dijelaskan diatas, jika terdapat kenangan yang kuat saat indahnya dimasa sehat, maka keterpurukan menjadi dua titik yang ekstrim dan bisa menjadikan si sakit menjadi terpuruk kondisinya.

Pada akhirnya tak ada jalan lain memang selain menghadapi sakit dengan rasa bangga. Dengan dengan pemaknaan, maka dengan sakit ini akan menguatkan kita. Seperti petinju yang memerlukan dipukul agar ia tahu kelemahan dirinya, sakit apapun itu hendaknya dipahami sebagai sarana menaikkan kualitas kemanusiaan kita. Apalagi jika ini mengenai hati, yang dengannya kualitas kebaikan kita dimanifestasikan. Menjadikan hati “berdialektika” bermanfaat untuk menjadikannya lebih tajam dalam menghadapi realitas yang membutuhkan rasa dalam keterlibatan diri kedalamnya...
on Rabu, 11 Desember 2013
Tak bisa dipungkiri, bahwa semangat itu naik turun meskipun tak pernah padam. Setiap masa yang terlewati memberikan pelajaran dan makna berharga yang seharusnya tidak hilang begitu saja. Meski pernah suatu masa dirundung sesal, maka kedepan seharusnya penyesalan seperti itu bisa antisipasi.

Mungkin aku tak segarang kawan-kawan, terlalu pengecut untuk bisa disebut bergerak. Jargon-jargon tak dipungkiri memang membuat semangat dan keinginan itu membuncah kembali. Tetapi apa yang bisa kulakukan? Tak bijak memang jika harus menyalahkan keadaan. Keadaan tentu saja tidak salah dan tidak akan salah. Memang harus diakui aku ini masih pengecut, tidak cukup nyali membuat adrenalin ini bersorak sorai menghadapi ketakutan akan kenyataannya.

Hal itu tidak boleh terjadi sebenarnya. Demi masa dan demi yang menimpa siapapun juga, kearifan harus senantiasa dibangun dari kenyataan. Dengannya tangan-tangan Tuhan bekerja. Tuhan itu Maha Benar. Bagaimana tangan Tuhan bekerja tidak pernah salah. Dan belajar darinya bisa membuat kita semakin cerdas, kurasa..  Itulah yang seharusnya ada pada “diri” ini yang, sekali lagi seharusnya, selalu bisa merasakan, Tuhan itu sungguh dekat.

Dan pada akhirnya harus kuakui, jika aku masih terlalu takut sendiri..
on Senin, 02 September 2013
Manusia tampak selalu beranjak pada sebuah kata. Sesaat menghirup jiwa dari resi-resinya yang hanya meninggalkan sabda. Sesaat lagi saling bercengkrama tentang sesuatu yang tak ia pahami. Manusia pada akhirnya memang hanya bisa berkata-kata

Manusia itu kemudian berjalan dihutan-hutan belantara untuk mencari makna atas nama kebijakan. Ia membawa seuntai dogma yang ia sendiripun bahkan tak tau apakah itu berguna untuknya. Manusia itu kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya tentang apa yang ia dapati. “Lepaskan saja jubahmu, biar kami tahu siapa engkau” kata muridnya sambil menangis menahan asa yang tak terselesaikan. Sebuah kata yang berakhir pada penyesalan. Sebuah tujuan yang terkapar tak tahu buat apa dia sekarang. Itulah makna-makna bertebaran atas nama penghormatan. Manusia memang selalu kebingungan tentang siapa dirinya.
on Selasa, 20 Agustus 2013
…..
Suara ilahi memenuhi langit, sehingga Rama tidak mendengar sorak sorai hadirin yang menyambut kemenangannya. “Rama, apa artinya cinta yang kau dapat dengan panah yang harus ditarik dengan gandewa? Gandewa itu adalah kehidupanmu sendiri, yang harus kau tarik dan kau berikan bila cinta menuntutmu demikian. Itu berat Rama, sebab siapakah yang mau melepaskan kehidupannya. Lihatlah para raja yang gagal menarik gandewa, karena sebenarnya mereka tidak merelakan hidupnya. Tapi bila kau mau melepaskan hidupmu dengan jujur, anak panah itu akan melesat dengan sendirinya dan mengenai sasarannya. Dengan kerelaan akan kehidupanmu itulah, maka seseorang bisa terpanah hatinya.”

“Tapi ingatlah Rama, bahwa agungnya cinta tidak dapat digambarkan seperti apapun. Cinta selalu lebih besar daripada segala-galanya, termasuk hidupmu sendiri. Maka jangan kau merasa sudah menguasai cinta dengan anak panahmu yang telah mengenai sasarannya, tapi sebaliknya pasrahkanlah dirimu kepada cinta untuk dikuasainya.”

“Karena itu Rama, jangan kau mengelak bila cinta kelak menuntutmu untuk menderita. Kini kau berdiri di bawah permadani emas dari hari-hari kebahagiaanmu, tapi sebentar lagi justru cinta yang akan menuntunmu ke dalam samudera yang penuh dengan penderitaan. Kau kini merasakan kepahitannya. Seperti dikatakan pendeta di hutan ang meramalkan hidupmu, kebahagiaanmu hari ini adalah awal dari penderitaanmu, demi tugasmu sebagai titisan Batara Wisnu.” Suara langit bicara dalam keilahiannya.

Suara mengesankan itu tiba-tiba menghilang. Dan terdengar hiruk-pikuk di sekitar halaman istana. Hadirin bersorak-sorai menyaksikan kemenangan Rama. Rama seperti tersadar dari mimpi dan tiba-tiba berdiri dihadapannya Prabu Janaka dan putrinya Dewi Sinta. “Biarlah dewa-dewa menjadi saksi kemenanganmu. Inilah putriku Sinta, cintailah dia lebih dari hidupmu sendiri. Semoga ia menjadi kekasihmu yang setia. Jadikanlah dia teman dalam setiap perjalanan hidupmu. Bahagiakanlah putriku ini, dalam kesenangan maupun penderitaan. Satria, terimalah anakku,” kata Prabu Janaka

….. 

(dikutip dari Anak Bajang Menggiring Angin; Sindhunata) 
on Jumat, 04 Januari 2013
Ia memiliki banyak nama, banyak tautan keagungan, juga tak sedikit celaan sebagai sekutu sesembahan. Dialah matahari yang kadang entah dengan tujuan apa, kita eja sebagai surya atau mentari.

Konon ia adalah satu diantara sekian banyak bintang yang bertebaran di langit. Hanya saja berbeda dengan bintang, matahari terlihat saat siang sedangkan bintang terlihat saat malam. Sepertinya mereka telah seiya berbagi peran. Begitu rapi mereka bersepakat, hingga matahari yang begitu agung diwaktu siang tetap saja tenggelam saat malam menjelang, memberikan waktu pada bintang untuk pamer keanggunan.

Seiring waktu manusia tahu, rupanya matahari tak mau begitu saja membiarkan dirinya diam tanpa peran saat malam. Bersekutu dengan bulan, ia berikan cahayanya pada bulan agar bulan berikan cahaya itu kembali untuk manusia. Matahari seperti tak mau membuang begitu saja pesona dan silau sinarnya, seolah ia ingin mengatakan pada manusia akulah kawan sejatimu karena aku paling dekat denganmu diantara bintang-bintang pengecut itu. Bintang-bintang ini jauh. Meski mungkin sebenarnya lebih menyilaukan dari matahari, tetap saja ia hanya tampak seperti titik yang menyedihkan jika tanpa kawan. Tapi tak pelak, ketika kawan-kawannya serempak datang, mereka cantik bukan kepalang. Aku tertegun. Seperti kanvas hitam yang dicoret dengan tinta warna kehidupan, bintang-bintang ini seolah berpesan jika harapan itu selalu ada. Hitam malam tak selalu berarti kelam katanya.

Sempurnalah malam jika juga bulan bersinar. Sinar yang sebenarnya bukan sinarnya. Tetapi kita tahu mereka tak bisa selalu bersama disepanjang penanggalan. Hanya saat tertentu bulan dan bintang tampak bersama. Ada saat bulan hanya sebagian menampakkan diri. Bulan sabit namanya. Begitu indah terlihat hingga sang dewa yang pernah dipuja mengambil rupa dari rupawan wajahnya. Sempurnalah malam jika demikian. Sayang sekali manusia kebanyakan terlelap, dan belum tentu bunga lelap mimpinya akan seindah tebaran bulan dan bintang. Mungkin ini takdir.

Dan matahari kembali bersinar, penanda hari mulai berganti. Manusia seolah diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Manusia dan matahari tampaknya akan bersatu membentuk makna baru yang dinamakan Keberkahan.
on Sabtu, 18 Februari 2012
Ada kawan bilang, wanita adalah ciptaan Tuhan yang paling indah. Entah apa maksud si kawan, yang jelas pada saat itu ia sedang terpisah jarak dengan kekasihnya. Jika Dewa bernyanyi Hawa tercipta didunia untuk menemani sang Adam, mungkin Hawa adalah ciptaan terindah Tuhan bagi Adam.

Dengan bahasa yang sama, mungkin sang kekasih dianggap ciptaan terindah bagi si kawan. Apakah keadaan yang sama juga berlaku sebaliknya bagi si kawan?? entah. Wanita seperti obat bius, membius logika..

Ada kawan bilang, wanita seperti candu. Dan ada Marx yang mengatakan agama adalah candu. Si kawan ini mungkin terinspirasi Marx. Apakah wanita juga menghisap seperti kaum kapitalis?? Bisa ya, bisa tidak..

Ada kawan bilang, wanita adalah neraka bagiku, mirip Sarte yang mengatakan orang lain adalah neraka bagiku. Adakah wanita menghambat kebebasannya?? Entah.. Sultan-sultan bahkan menikahi banyak wanita..

Dan kawan lagi bilang aku mencintaimu maka aku ada, syair pendek yang ditujukan untuk kekasihnya. Entah apa makna ada bagi dirinya. Apakah sama dengan makna ada Descartes yang mengatakan aku berfikir maka aku ada?? Dirinya yang lebih tahu..
Ada kawan lagi bilang wanita seperti pembangkit listrik tegangan tinggi. Hanya melihat tanpa bersentuhan pun bisa membuat badan menggigil selayaknya disetrum.. oooh…

Ada kawan juga bilang wanita seperti hantu. Barangkali ada, tapi tidak ada. Dan yang lebih banyak, tidak ada tapi dianggap seakan ada. Mengada-adakan bahwa wanita pujaannya ada untuk dia, padahal wanita itu tak ada sedikitpun untuk dia. Obat patah hati paling mujarab; manipulasi persepsi..

Dan ada kawan bilang wanita adalah misteri terdalam dialam ini. Tak ada kepastian sedikitpun tentangnya; bisa ya bisa tidak, entah, mungkin, barangkali,…sssshhhh…
on Rabu, 25 Januari 2012
Rusa itu sedang kebingungan. Di depan ada dua jalan, persimpangan yang membuatnya sejenak berpikir tentang perjalanannya sampai sejauh saat itu. Di jalan sebelah kiri terlihat daun-daun begitu menggiurkan. Muda dan tentu saja lezat. Belum lagi buah-buahan yang ditumbuhkan dari pepohonannya yang rindang. Rupanya sedang musim semi, musimnya kehidupan. Musimnya alam menumbuhkan dan mencari jati dirinya. Kemudian dialihkan pandangannya ke sebelah kanan. Biasa saja dedaunan dijalan ini pikirnya. Memang sedang tumbuh dedaunan muda, tapi tampaknya tak selezat dijalan satunya. Meski belum pernah merasakan, karena inilah perjalanan pertamanya di daerah itu dan tumbuhan itu memang hanya tumbuh disitu, tetapi sesepuhnyalah yang berkata demikian. Belum lagi tambah sesepuhnya, tak jauh dari persimpangan ini bukan rimbun dedaunan yang akan ia temui, melainkan hanya ladang tandus.

Sejenak ia teringat Prabu Salya yang disambut aneka rupa jamuan dan buah-buahan oleh prajurit Duryudana diperjalanannya ke Upaplawya hingga akhirnya berperang dipihak Kurawa. Jangan-jangan ini hanya muslihat. Muslihat dari alam yang bisa saja mengalihkan tujuan perjalanannya, sebuah tujuan besar dan mulia. Bukankah ia harus sampai di perkampungan menyelamatkan kaumnya yang banyak tertawan petani?? Dan jalan sebelah kanan inilah yang akan membawanya kesana. Sejenak ia berfikir menyeimbangkan itu semua, karena ia pun butuh makan dan tentu saja ia menginginkan bekal yang sesuai dengan selera hatinya. Pun demikian ia tak ingin melanggar pesan sesepuhnya karena bagaimanapun juga merekalah yang lebih tahu tentang seluk beluk hutan ini.

Tetapi bukankah sesepuhnya belum pernah sampai ke jalan ini?? Cerita dedaunan muda ini hanya diceritakan turun temurun. Memang ada pula yang pernah membawa dedaunan ini sampai ke kampung si rusa. Tetapi pikir si rusa, dia nya saja yang tak pandai memilih, karena saat itu ia membawa dedaunan yang tak tahunya ada ulat bulu. Kalaupun ada ulat bulu, dengan kesabarannya menunggu bukanlah ia juga bisa jadi kupu-kupu yang indah? Dan saat itu, bukan kepuasan, tetapi jusru petaka yang ia dapat yang sesaat menggemparkan penghuni kampung rusa.

Sebenarnya tak terpikirkan akan ia bawa
dedaunan dari jalan kiri ini, sampai saat ia melihat seranting daun yang menggoda hatinya. Beraduk rasa ia rasakan, antara keinginan dan tujuan. Yang jelas ia harus segera menunaikan amanat kaumnya. Kalau tidak, bisa jadi kawan-kawannya yang tertawan sudah terpanggang menjadi lauk di meja petani.

Tiba-tiba ia melihat gerombolan pipit terbang disekitar dedaunan. Tatapannya terlihat serius menatap ranting yang menggoda seleranya itu. Sempat was-was, jangan-jangan ia hinggap disitu dan merusak dedaunan. Sesaat ia lega karena tak jadi pipit hinggap disitu. Belum selesai ia menghela nafas, datang burung elang. Seperti halnya burung pipit, matanya tajam mentap ranting itu. Takut elang hinggap dan merusak dedaunan. Pun demikian ia lega karena elang tak jadi hinggap. Bisa jadi inilah isyarat pikirnya, bahwa ranting itu memang ditakdirkan untukku. Mantaplah langkahnya memilih ke jalan kanan. Meski sedikit menunda seleranya, tapi bukankah ia bisa jadi bekal perjalananku pulang? Akan kupetik dedaunan diranting itu setelah selasai ku tunaikan amanat kaumku. Akan ku bawa ke kampung rusa, dan akan ku buktikan bahwa daun ini lezat dan tak berbahaya. Berjalanlah si rusa dengan riang dan penuh semangat. :)
on Selasa, 24 Januari 2012
Anak ayam suatu ketika akan besar dan menjadi pejantan yang siap diadu atau betina yang siap dibuahi untuk bertelur dan bertelur. Begitu juga si jantan anak harimau, suatu ketika akan tumbuh menjadi harimau dewasa dengan taring runcingnya yang bersiap menerkam rusa dikala lapar. Bayi mungil itu suatu saat juga akan menjadi pria dewasa, yang tentu saja akan banyak tanggungjawab yang akan diembannya. Menjadi berani, menjadi pecundang, menjadi kaya, menjadi miskin ada yang bilang kita bisa menentukan, bisa memilih dan tentu saja, harus bersiap, bisa untuk puas atau kecewa.

Menjadi tentu saja terikat oleh waktu. Menjadi itu disuatu waktu untuk kemudian menjadi sesuatu yang lain dimasa yang lain pula. Waktu ibarat menjadi saksi akan kemenjadian sesuatu, meskipun tak ada yang benar-benar bisa memastikan apakah waktu diluar dari kemenjadian, yang mengamati proses tanpa suatu ekspresipun atau justru ia adalah bagian dari kemenjadian itu dan oleh karenanya ia adalah menjadi itu sendiri.

Menjadi adalah simbol dan bukti nyata dari perubahan. Dengan menjadi, perubahan bisa “dirasakan”. Sebuah perubahan yang disadari tentu saja akan menghasilkan menjadi yang berbeda dengan perubahan tanpa kesadaran. Tidak bisa dipungkiri terkadang memang dibutuhkan semacam katalisator. Pada tahap ini, kesadaran akan kehadiran katalisator menjadi penting agar tidak terjebak pada semacam penggiringan. Semisal anak harimau yang, tentu saja tidak sadar akan perubahan yang menimpa dirinya, karena memang ia diciptakan demikian; kemenjadian seorang manusia tentu saja berbeda. Jikalau hewan dan makhluk-makhluk “tanpa” rasio hanya sebagai objek dari sebuah “hukum” kemenjadian yang digerakkan misalnya oleh alam, manusia dengan kesadarannya bisa menjadi objek sekaligus menjadi subyek dari proses menjadinya.

Bukan suatu yang mudah untuk membangkitkan kesadaran, karena itu kompleks. Tiap manusia terutama yang bersosialisasi tentu saja memiliki sebuah sikap mental yang khas, yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tumbuh dan dibesarkan. Belum lagi dengan karakteristik manusia, entah intelektual maupun emosional, yang mempunyai kekhasan antara satu manusia dengan yang lain, juga membuat proses menyadaran menjadi kompleks. Tentu saja juga tidak bisa menyadarkan satu orang perorang. Oleh karenanya kesadaran harus dibangkitkan secara massal.

Dan menjadi sekali lagi sangat ber-waktu. Sadar diperlukan agar tidak tergilas waktu, karena sadar berarti menaklukkan waktu, entah itu waktu yang lampau atau waktu sekarang berproses. Manusia yang dipercaya sebagai makhluk sempurna, tentu saja harus membuktikan kesempurnaan itu. Kesempurnaan disini adalah kesempurnaan dalam konteks kefanaan, karena manusia hidup didunia, dan oleh karenanya ia sangat terikat oleh waktu. Terikat oleh waktu berarti ia menjadi. Maka kesempurnaan bukan berarti stagnasi. Kesempurnaan adalah proses menjadi, dengan kata lain kemenjadian adalah bukti kesempurnaan manusia. Tanpa menjadi, jargon manusia makhluk sempurna adalah slogan kosong, sebuah “pujian” yang tak pantas diberikan.
on Senin, 31 Januari 2011
Mengingat kembali bentuk dan komposisi garis-garis itu, sepertinya bentuk (baca:simbol) memang punya makna. Unik dan tentu saja simbolis. Terkadang mempersatukan, karena dengannya sekelompok orang jadi merasa punya identitas yang divisualkan. Sebuah visualisasi yang memiliki makna tersirat; entah mulia, entah bermanfaat, despot, atau bahkan sampah. Mereka yang berbangga memakai simbol dan merekalah yang merelakan, setidaknya secara parsial, kediriannya. Ego-ego yang mulai dikompromikan, karena ini terkadang sebuah keniscayaan. Tidak menarik memang, ketika simbolisasi berujung pada seruan-seruan primordial, feodal, bahkan gender. Tapi apa daya, karena manusia terlahir dengan fakta-fakta, terlahir dengan atribut, pada akhirnya ketika harus “dipaksa” menyerah, tak berdaya karena tidak memiliki kesadaran.

Entah mengapa simbol bisa melahirkan rasa sentimental yang luar biasa, sebuah loyalitas tanpa syarat. Adalah pemaknaan yang memainkan peran besar. Elaborasi atas konsep, mungkin juga visi, dengan sentuhan filosofi sebagai awal, makna bisa menjadi dogma praktis yang siap dimainkan oleh pengikutnya. Dengan bantuan “ulama” makna, syiar simbol tak jarang merasuk sampai ke alam bawah sadar pengikutnya. Tanpa kesadaran kritis, manusia bisa menjadi debu, yang terbang entah kesana kemari kearah pemaknaan dogma. Tapi tak jarang simbol dianut setelah melalui proses pertentangan yang panjang. Entah pertentangan dalam dirinya, maupun dalam sosial kultural nya. Menurut hemat saya, idealnya seperti ini lah simbol itu dianut. Proses analitis kritis atas fenomena simbolisasi menjadi penting, sebagai awal dari konsekuensi logis ide intelektual organik. Lebih lanjut simbol-ide takkan mampu menggerakkan perubahan jikalau tak mampu mengakomodir realitas sosial. Kesadaran massal diperlukan, dan ini bisa digerakkan oleh simbol. Semacam onani budi, kurang berarti simbol jika hanya memuaskan seorang diri pribadi.

Simbol tentu saja bukan tujuan, melainkan hanya sarana. Terlepas entah apa tujuan itu, simbol cukup efektif mempersatukan, sedangkan manusia tentu saja membutuhkan identitas sebagai salah satu cara bereksistensi yang paling manjur dan murah meriah. Mungkin sudah menjadi fitrah psikologis juga bahwa manusia memerlukan identitas. Bagai barang dagangan, simbol-identitas siap dipilih dan dibeli dipasar ide manusia. Manusia tentu saja bebas memilih yang paling sesuai dengan dirinya. Tetapi seperti yang terjadi pada mekanisme pasar sempurna, distorsi selalu saja muncul. Entah disengaja, sistematis atau tidak, distorsi semacam ini sangat mengganggu. Disinilah, seperti halnya sistem perekonomian pasar, will to power sekali lagi mendapat pembenaran, bahkan dalam ide-simbol yang welas asih sekalipun, tanpa moralitas, manusia hanya menjadi santapan bagi manusia lainnya.

Bisa jadi simbol adalah salah satu mekanisme pertahanan hidup manusia. Sebuah permulaan dari tahap evolusi budaya manusia. Pada tahap selanjutnya simbol bisa mengalami pengaruh estetika, sebuah rekreasi budi, yang bisa meruntuhkan kejenuhan eksistensial manusia. Tapi bukan tak mungkin simbol menciptakan kejumudan, yang menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai makhluk yang berfikir, sebagai makhluk yang bebas. Seperti sebuah bak yang disi air untuk mandi, sayangnya bak tak pernah menolak untuk diisi air keruh, atau bahkan meminta untuk disi air jernih, meskipun pada hakikatnya air jernihlah yang diperlukan..ironis!

Pada akhirnya pemilik simbollah yang tertawa, karena simbolisasi telah berhasil dilakukan. “Dakwah” telah berhasil mendapat pengikut yang signifikan. Entah mencerahkan atau membelenggu, yang jelas barang dagangan harus laku. Kalau tidak, kegiatan produksi bisa terancam. Dan dapat dibayangkan betapa tidak menariknya dunia tanpa simbol-simbol. Seperti kain tanpa corak dan pola, tentu tak sedap dipandang mata, meskipun aku tetap tak suka simbol bintang daud dengan dua garis atas bawah jadi salah satunya… :)

“Pengetahuan adalah harta yang patut dimuliakan, perilaku baik adalah busana baru, dan pikiran adalah cermin yang jernih” (Imam Ali bin Abi Thalib kw)
on Senin, 08 Maret 2010
Sebuah dan tentang titik. Ya, kalimat pertama tulisan ini pada akhirnya diakhiri dengan titik dan seterusnya hingga sampailah ia pada kalimat terakhir. Sebuah titik kadang merangkai sebuah pengertian. Kadang pula merangkai sebuah kesadaran, bahwa ia harus berhenti; pada sesuatu, untuk sesuatu, atau bahkan hanya untuk sesuatu saat. Ia bukan sekedar hasil dari sentuhan tinta dengan kertasnya, tapi karena ia ada, dan sudah seharusnya ada, kita bisa mengambil nafas untuk melanjutkan mengeja, membaca dan meresapi hingga seterusnya dan berjumpa lagi dengan titik. Kadang kali ia dibuat begitu banyak dan berjajar. Mungkin isyarat untuk sejenak jeda lebih lama, bahwa ada seterusnya yang, tidak bisa di tuliskan mungkin, hingga perlu berjajar dan beramai-ramai untuk benar-benar mengetahui ada makna apa dibalik hidupnya kata-kata sebelumnya.

Titik, dan dari sanalah konon semuanya bermula. Ia berpegangan rapat-rapat, hingga bisa dibentuk huruf, kata dan kata-kata. Kata dan kata-kata berhimpun dan jadilah sebuah kalimat. Dari sana muncul makna-makna, kadang sederhana, tapi kadang mendalam hingga berasa begitu nikmat meresapinya. Dan pada akhirnya kalimatpun harus juga diakhiri dengan titik.

Titik bukan koma, yang merupakan isyarat untuk berhenti sejenak, dan titik tidak bisa menjadi koma. Begitu pula sebaliknya, koma tidak bisa menjadi titik karena itu bisa mengacaukan. Mengacaukan intonasi, mengacaukan susunan, dan yang lebih parah mengacaukan makna.

Sebuah titik tidak selamanya identik dengan berhenti. Justru dari sanalah kadang sebuah perjalanan bermula; mengakhiri sebuah makna, untuk kemudian melanjutkan dengan makna yang lebih baru, lebih dalam semoga, dan jangan sampai ia hanya jadi penyimbolan untuk berakhirnya sesuatu untuk sekedar sesuatu. Kalau hanya ini yang ada, bisa-bisa prosa yang penuh dengan titik dan titik-titik ini menjadi hambar dan tiada bernilai.

Dalam sebuah prosa kehidupan yang dipenuhi dengan titik, dengan inilah prosa itu bisa terangkai dan pada akhirnya bisa dialurkan. Titik menyambung untuk kemudian menyatukan, dan bahwa saat sesuatu harus terhenti, seringkali kemudian ia tersambung lagi, yang karenanya ia ada, alur itu menjadi indah. Kadang tak terduga, tidak direncanakan, muncul tiba-tiba hingga menjadi indah pada waktunya. Disinilah, kata orang, titik (kalau tahu ada titik tentunya) merubah yang tak menyenangkan menjadi menyenangkan; mengubah yang tak indah menjadi indah; dan bisa menjadikan yang hitam jadi putih sekalipun.

Titik bukanlah bintang-bintang yang berserak dilangit, yang meskipun berwujud titik dengan mata kita melihat; bercahaya dan beraneka warna, ia hanya bisa dinikmai keindahannya. Tak bisa kita mengatur warna bintang, karena ia ada memang begitulah adanya. Tapi dengan titik, kita bisa mewarnanya sesuka hati kita, entah hijau, putih, merah, bahkan hitam, asal ada pena tentunya.

Titik tetap saja titik. Kecil, dan seringkali tidak dianggap ada saat terlalu asik menikmati alur. Diumpat saat ia dianggap mengakhiri sebuah akhir sedih. Dihina saat dianggap hanya mampu mengadili tapi tak mampu member solusi. Tapi kadang ia dipuja, karena mambuat sempurna sebuah akhir bahagia. Sederhana, dalam dan memberi makna, hingga pada akhirnya, seperti yang telah dijanjikan diawal, tulisan kecil ini pun harus diakhiri dengan titik.
on Sabtu, 20 Februari 2010
Sudah menjadi keyakinan umum kalau persepsi banyak mempengaruhi cara pandang manusia dengan dunianya. Hampir-hampir semuanya berkaitan dengan persepsi dan cara pandang. Ambil contoh sederhana mengenai merokok. Ada sebagian yang beranggapan merokok akan banyak membantu para buruh dan banyak kaum bawah lain, mengingat begitu banyaknya pihak yang berhubungan dengan rokok, mulai dari petani tembakau, cengkih, sampai pedagang asongan yang “hidup” dari rokok; hingga ia benar merasa cukup “beralasan” untuk merokok. Dan sebagian yang lain, karena banyaknya racun yang bersemayam didalamnya, sungguh-sungguh menjauhi sesuatu yang dinamakan rokok itu. Dan pada akhirnya persepsilah yang menentukan tentang “kenikmatannya” untuk merokok atau tidak merokok sekalipun.

Persepsi menurut KBBI berarti tanggapan (penerimaan) langsung dr sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Dari sini sedikit banyak dapat diambil, karenanya berkaitan dengan proses tanggapan dan panca indera, maka “kebijaksanaan” seseorang sangat berpengaruh bagaimana persepsi itu diproduksi. Kebijaksanaan menurut hemat saya tak melulu soal akal, tetapi hatilah yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap persepsi. Hati yang bersih akan mampu melahirkan persepsi yang jenih dan hingga pada gilirannya akan dapat diterima akal.


Pada suatu saat yang sudah telampau lama, ada sebuah perbincangan menarik dengan seorang kawan, dan tiba-tiba dia berucap “menurutmu gelas ini setengah kosong atau setengah isi??” (mengutip dari sebuah judul buku mungkin), tak kujawab karena itu sama saja, dan saya pun sudah tahu arah pembicaaannya kemana. Kawan –kawan sekalian tentunya juga sudah mengetahui kemana arah pembicaraan ini. Ya, hal ini, kata kawan itu, berkaitan dengan cara pandang, proses tanggapan, dan persepsi. Kalau kita beranggapan setengah isi, bisa disimpulkanlah kalau memang kita memiliki cara pandang yang positif, dan kurang lebih seperti itulah yang diharapkan, kita selalu mampu bersyukur dan mengambil sisi positif dari setiap kehidupan yang terjadi dan sudah kita lalui, suka atau tidak suka hal-hal yang telah terjadi itu. Tidak ada yang perlu dipertentangkan, karena secara norma memang sudah demikian yang seharusnya. Tetapi apa yang terjadi dengan dunia kita saat ini? Masih relevankah?

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau dunia kita memang sudah semakin permisif dan materialis. Dan saat inilah kemampuan bersyukur, tawakal, dan menggunakan menjadi sangat penting. Ia bisa menjadi semacam rem bagi sifat serakah manusia, dan ia bisa menjadi semacam pelipur lara bagi setiap kelemahan kita. Tetapi ia menjadi berbahaya bila “dikonsumsi dengan dosis yang berlebihan”. Karena bukan lagi menjadi bersyukur, malah sudah menjurus pada tindak kemalasan (Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubahnya??). Pada tahap inilah, bagaimana persepsi bisa dimainkan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya bisa kita manipulasi, hingga akhirnya kita merasakan ada yang salah dengan persepsi karena ketidakkonkretannya. Seorang pekerja yang hanya mendapat sepuluh ribu perhari tetap tidak akan bisa makan tiga kali sehari, entah bagaimanapun ia memanipulasi persepsi. Dan persepsi mungkin bisa mengenyangkan tapi ia tidak benar-benar bisa mengenyangkan. Dan tak ada yang bisa dilakukan kemudian kecuali melawan. Melawan diri kita dari kungkungan pisau persepsi. Melawan penindas persepsi. Dan melawan para penghambat produksi persepsi.
on Sabtu, 21 Maret 2009
Istilah cinta mungkin sering kali terdapat dalam kamus kosakata keseharian kita. Cinta sering membuai kehidupan manusia, khususnya para remaja. Dan cinta yang merasuk pada ranah keremajaan inilah yang seringkali menjadi objek pengkomoditian. Tapi pernahkan diantara kita memikirkan definisi dari istilah ini? Kalaupun ada pasti sangat beragam dan tentunya sangat subyektif. Dan memang cinta mengambil wilayah yang demikian dalam pergulatan antara pribadi kita sebagai entitas yang otonom dengan dinamika sosio-kultural kita. Kita ambil contoh, menyadur dialog bintang film kita yang mengatakan bahwa cinta adalah absurb. Dan kitapun pasti setuju karena memang demikianlah adanya. Sebagai buktinya definisi dari hal ini pasti berbeda antara satu orang dengan orang lain, dan pengalaman akan hal inipun pastinya juga berbeda antara satu orang dengan yang lain. Dari sini semakin menegaskan bahwa cinta adalah sesuatu yang subyektif dan maknawi. Dan sejauh ini, cinta bukankah sesuatu yang material.

Selanjutnya, melihat realitas sosial kita, dapat muncul pertanyaan, bagaimana cinta yang pemaknaannya cenderung terpengaruh oleh keadaan dan kondisi sosial kita selanjutnya ganti berbalik menjadi salah satu yang mempengaruhi dinamika sosio-kultural masyarakat kita pada umumnya??

Pembahasan yang mungkin pertama-tama dapat dilakukan yaitu melihat cinta sebagai suatu komoditas. Pada tahap inilah transformasi dari cinta sebagai suatu yang maknawi kepada suatu tingkatan yang lebih riil, kalau tidak mau disebut material terjadi. Kita lihat kondisi yang berkembang dewasa ini, bahwa pemaknaan akan cinta telah mencapai pada suatu tahapan yang cukup dinamis. Penginterpretasian dan pengungkapan tentang cinta menjalar melampaui berbagai tingkat social, kultural maupun intelektual. Dalam artian cinta adalah sesuatu yang dirasakan universal, tanpa terpengaruh ras, suku, status sosial (mungkin inilah keindahan cinta). Bila kita lihat cinta sebagai komoditi tadi, bagaimana media-media, cetak maupun elektronik, menampilkan cinta bagai barang dagangan yang sewaktu-waktu dapat dibeli dan dirasakan bagi mereka yang mampu untuk melakukanya. Terlepas jitunya kaum kapitalis-hedonis yang dapat mengkomoditikan hal ini, pada tahap inilah pemahaman akan cinta menurut orang-orang itu atau yang terlibat didalamnya sedikit banyak sudah mampu mempengaruhi bagaiman cara pandang kita terhadap cinta. Cinta berubah menjadi sebuah lifestyle, dimana hal ini sudah menjadi semacam gejala sosial. Cinta sebagai sebuah komoditas memang sangat menarik. Kita menjadi bisa menikmati efek dari pemaknaan-pemaknaan cinta yang dimanifestasikan pada sesuatu yang bersifat nyata. Ambil contoh adalah sebuah lagu. Dan hal ini mengandung multiplier efek yang sangat besar pula bagi kondisi sosial masyarakat, menurut saya. Bisa kita lihat bagiamana hamper setiap lagu berbicara tentang cinta. Terutama cinta dalam kaitannya dengan hubungan dua dua insan yang berbeda jenis, laki-laki dan perempuan. Lagu seringkali menjadi pelampiasan dalam pemaknaan cinta, dan sejauh ini adalah pemeknaan yang produktif karena bisa dilihat bagaimana seorang musisi bisa memposisikan cinta ini menjadi sebuah komoditas. Dan akhirnya penyebaran pemaknaan tentang cinta versi ini bisa menyebar kepada masyarakat atas lagu-lagu yang diciptakannya.

Oleh sebab itulah mengapa didepan saya ambil contoh pemahaman cinta yang demikian yaitu dari bintang sinetron tadi. Tak ada yang salah memang apabila kita mengambil posisi yang demikian, tetapi hendaknya, menurut saya kita mampu membedakan bagaimana aplikasi cinta itu dalam keseharian kita. Untuk itulah meminjam istilah tokoh-tokoh sekuler, bahwa menurut saya ada baiknya kita membedakan cinta itu menjadi cinta yang sakral dan cinta yang profan. Saya melihat kondisi realitas sosial kita, sedikit sekali yang mengambil posisi yang semacam itu. Cinta yang sakral itu tidak boleh kita komoditikan, apapun dan bagaimanapun caranya. Dan saya kira masing-masing individu mempunyai kebebasan untuk mendifinikan apakah cinta yang sakral itu ataupun apakah cinta yang profan itu. Sedikit cerita, orang orang yang atheis itu menjadi atheis karena pikiran mereka secara rasional tidak mampu menjangkau atau bahkan mungkin sangat menjangkau suatu Dzat yang dinamakan Tuhan, tetapi para mistikus atau para sufi dapat memberikan alternatif pemecahannya yang mungkin dapat kita coba, yaitu mengenal Tuhan dengan Cinta….


on Jumat, 06 Februari 2009
Pertanyaan yang sering muncul dari setiap sudut otak menusia salah satunya adalah mengenai problem eksistensi. Seberapa sadarkah kita mengetahui tentang eksistensi kita sendiri? Seberapa dalamkah kita faham tentang makna keterjadian kita?

Bermacam pemikiran tentang hal ini telah diutarakan. Dan kesimpulan yang didapat tetap saja normatif dan cenderung kasusistis, karena jawaban hasil dari kontemplasinya cenderung tersegmentasi dan sangat jauh dari kesan menyeluruh. Hal ini bisa kita maklumi, dan sejauh ini harus berjalan demikian, karena suatu perenungan ada karena ada kondisi eksternal kejiwaan maupun sosio-kultural yang menyertainya. Sebagai misal, tak mungkin ada suatu teori nilai lebih apabila Karl Marx hidup dalam suatu masyarakat buruh yang makmur dan diperlakukan adil (adil menurut Karl Marx tentunya). Oleh sebab itulah hasil perenungan ini cenderung bersifat subyektif. Seperti yang diutarakan Jespers bahwa sebagai subyek kita berbeda-beda, maka dalam pengamatan kita terhadap dunia kita masing-masing akan berbeda-beda pula.

Melalui proses perenungan yang bermuara pada kesubyektifan manusia inilah eksistensi manusia dapat teraktualisasi. Manusia sebagai kenyataan subyektif ini berkaitan erat dengan titik tolak bahwa manusia adalah sumber dari segala pengamatan. Seperti yang diutarakan oleh Soren Kierkegaard, bahwa yang konkret dan yang nyata adalah apa yang individual dan subyektif, bukan apa yang dipukul rata dan obyektif. Dan sekali lagi, rumusan diatas muncul atas suatu pemikiran yang berkembang pada saat itu, bahwa sesuatu yang dinyatakan sebagai kebenaran, harus dapat dinyatakan sebagai suatu pemikiran yang pasti. Disamping itu, sesuatu pemikiran tentang kenyataan haruslah dinyatakan dalam rumus-rumus yang berlaku umum. Apa yang universal itulah yang mendapat tempat, bukan yang partikular. Disinilah obyektifitas mendapat tempat yang cukup nyaman.

Menurut uraian diatas, tidak memilihpun sudah merupakan suatu pilihan, sejauh tidak memilih itu ada argumentasi yang baik ataupun yang buruk menurut dirinya. Dia yang tidak memilih itupun tidak bisa dikatakan sedang mengalami kebingungan pada pailihan-pilihan yang ada dihadapannya, karena dengan berasumsi ia menggunakan logikanya secara rasional, maka tidak memilih tadi akan menjadi bermakna dalam artian ia telah mengalami aktualisasi dalam kaitannya dengan pilihan yang telah ia buat untuk tidak memilih.

Sebagai konsekuensi dari aktualisasi eksistensi manusia ini, interaksi manusia dengan lingkungan sosialnya dengan segala bentuknya menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat terelakkan lagi. Pemahaman akan peran sosial manusia menjadi sangat penting disini. Dalam agamapun sudah dijelaskan bahwa kedudukan manusia dibumi ini adalah sebagai pemimpin. Sebagai seorang pemimpin, maka kita dituntut agar menjadikan diri kita menjadi seorang pribadi yagn berkualitas, tidak hanya individual, tetapi juga sosial maupun kultural. Seorang yang berkualitas secara individual adalah manusia yang berilmu, yang dengan ilmu yang dimilikinya dia mampu menyerap, memproses, dan menciptakan ide secara baik dan berkualitas. Pada tahap ini ide dan ilmu baru sebatas memenuhi dahaga intelektual manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling berakal. Kualitas sosial adalah manusia yang mampu bermanfaat bagi masyarakat. Unsur terpentingnya adalah pengabdian. Manusia tidak hanya mempu mendialektikakan ide dalam dirinya sendiri, tetapi lebih dari itu harus mampu mengaktualisasikan dan mangimplementasikan dalam masyarakat. Kualitas kultural adalah kualitas manusia dimana ide-ide dan pemikiran manusia itu sudah mampu merubah kultur dan cara pandang masyarakat. Adam Smith, Karl Marx, adalah cantoh nyata manusia yang sudah mampu mencapai kualitas ini.

Masih berkaitan dengan eksistensi diatas, ada suatu kondisi menarik apabila kita dihadapkan pada suatu pertanyaan “siapakah aku?”. Pertanyaan yang terilihat cukup sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan suatu pemaknaan yang dalam. Bisa saja dijawab aku adalah Abdul misalnya, karena namaku adalah Abdul. Tetapi apakah demikian halnya apabila namaku tidak lagi Abdul, atau bahkan aku tidak punya nama. Jawaban Abdul tentu saja sudah tidak relevan lagi atau dengan kata lain, Abdul itu sudah menjadi tidak bermakna. Pemaknaan terhadap eksistensi Abdul bisa diangggap telah gagal, karena Abdul kini sudah tidak bermakna lagi. Artinya tidak ada rasionalitas dalam mengeksiskan orang tadi menjadi Abdul hanya karena namanya Abdul. Dalam konteks inilah perlunya aksi dan tindakan nyata kita dalam kaitannya dengan aktualisasi diri kita sebagai makhluk Tuhan paling berakal.

Pemaknaan seharusnya tidak hanya melalui perenungan sesaat saja. Contoh sedarhananya, kita pasti punya atau setidaknya pernah punya suatu barang dalam kamar kita yang karena tidak berarti menurut kita jarang sekali kita memperhatikannya. Secara harfiah barang itu ada tapi apakah barang itu benar-benar ada masih perlu dipertanyakan. Dalalm artian apakan ia benar-benar ada dalam subyeknya sebagai benda tadi mesih perlu dipertanyakan. Begitu halnya dengan kita. Dalam suatu komunitas masyarakat selama kita masih hidup, secara harfiah pasti tidak ada yang menyangkal bahwa kita ada. Tetapi apakah kita akan benar-benar ada masih perlu dipertanyakan tergantung apa yang telah, sedang dan akan kita perbuat untuk masyarakat. Pada intinya eksistensi tidak hanya butuh suatu kontemplasi, tetapi lebih dari itu, yaitu suatu aksi. Dan ini menurut hemat saya menjadi sangat penting ditengah keseragaman yang melanda llingkungan kita dewasa ini.

Meskipun demikian, eksistensi ini bukanlah suatu tujuan akhir yang semata-mata hendak kita capai didunia ini. Dalam agama telah dijelaskan, Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu. Dan inilah hakekat tujuan utama kita hidup didunia. Beribadah itu sendiripun mencakup suatu pengertian yang sangat luas salah satunya mencakup hubungan sosial kita kepada masyarakat. Pada konteks inilah, penyadaran terhadap apa yang telah dan akan kita perbuat untuk masyarakat menjadi sangat penting.
Sering bagi kita menyimak berbagai hal tentang perubahan. Entah dalam lingkup pemerintahan negara maupun dalam hubungan antar personal kita sebagai entitas terkecil dalam masyarakat. Banyak orang berteriak-teriak tentang perubahan, entah menuntut diadakannya perubahan atau berjanji-janji manis akan melakukan perubahan. Entah mereka sadar atau tidak, paham atau tidak, yang jelas perubahan seakan sudah menjadi semacam komoditas, yang bisa dan siap dieksploitasi untuk kepentingan sesaat. Bahkan mungkin karena seringnya kita mendengar atau melihatnya dibicarakan orang, kata ”perubahan” itu sendiri seakan-akan menjadi tidak bermakna. Meskipun ada sebuah ungkapan bahwa yang abadi didunia ini hanya perubahan, tetapi apabila pemaknaan tentang perubahan tadi menjadi kosong bisa dibayangkan betapa tidak berartinya dunia kita, dan bisa dikatakan disini kita memasuki wilayah yang berbahaya karena terjebak oleh suatu penyakit yang disebut dengan stagnasi. Meskipun ada jargon-jargon tentang perubahan, hal itu tak lain adalah jargon kosong tanpa suatu substansi dan cenderung tidak konkret.

Suatu perubahan biasanya diawali dengan refleksi atas suatu realita sosial yang berkembang. Sehingga kunci dari perubahan itu sendiri adalah kemampuan kita merefleksikan realitas sosial itu secara proporsional, objektif dan kritis. Refleksi disini adalah proses analitis, dan outputnya adalah ide. Kita tidak sedang memerankan suatu lakon dalam sebuah sandiwara disini, dimana perubahan sebelumya telah diskenario sedemikian rupa, sehingga apa yang terjadi seperti apa yang diharapkan atau tidak meleset jauh dari apa yang dibayangkan. Disini ”perubahan” seakan-akan tampak benar-benar sebagai perubahan padahal tidak sama sekali.

Perubahan atas realitas sosial disini adalah sebuah proses yang ”alami”, dimana hubungan antar satu hal dengan hal lain dalan suatu komunitas sosio-kultural adalah saling kait-mengkait dan mempengaruhi. Proses refleksi itu sendiri bisa berjalan efektif apabila ada sebuah resistensi terhadap suatu kemapanan pemikiran yang dominan. Pada tahap inilah metode Hegel tesis-antitesis-sintesis bisa diaplikasikan. Sintesis dalam hal ini adalah sebuah hasil dari aspirasi tentang perubahan sebagai akibat hantaman antitesis tarhadap kemapanan pemikiran yang dominan dan berkembang (tesis). Selanjutnya sintesis inipun kemudian akan menjadi sebuah tesis yang baru yang siap untuk dikritisi oleh antitesis yang baru pula, begitu seterusnya. Mirip seperti yang dikatakan oleh Baruch Spinoza (1632-1677) bahwa dalam pikiran tidak ada kehendak mutlak atau bebas; namun pikiran diharuskan untuk menghendaki ini atau itu oleh suatu penyebab yang juga ditentukan oleh penyebab yang lain, dan penyebab yang lain itu juga ditentukan oleh penyabab yang lainnya lagi, dan seterusnya tiada terhingga. Untuk itulah mengapa proses dialogis terhadap kemapanan pemikiran yang dominan perlu dilakukan untuk dapat mengakomodir realitas sosial yang berkembang dan sebagai jalan menuju dinamisasi sosial.

Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita tegaskan dahulu, bagaimana kita mendefinisikan perubahan itu sendiri? Perubahan yang dipahami hanya sebagai asal berubah tanpa memandang substansi yang mengiringinya akan menjadi kontradiktif dan cenderung kontraproduktif. Perubahan hendaknya dipahami sebagai proses transformasi ide dan pemikiran kita yang kemudian dimanifestasikan dalam sebuah tindakan nyata. Tidak hanya berwacana, tetapi bagaimana ide itu bisa diimplementasikan ke dalam tindakan yang sebenarnya. Semakin rasional dan aplikatif ide itu maka semakin mampu menjawab kondisi realitas sosial yang berkembang, sehingga akan lebih bisa diterima masyarakat dan pada akhirnya mempengaruhi ide-ide personal sebagai bagian terkecil dari masyarakat itu sendiri. Dan akhirnya akan mendorong tumbuh kembangnya ide. Karena permulaan perubahan adalah ide, maka instrumen-instrumen sosial yang ada dalam masyarakat harus bisa menjamin dan mendukung tumbuh dan berkembangnya ide-ide tersebut, bila tak mau perubahan dilakukan secara radikal seperti saat peristiwa 98. Karena perubahan adalah suatu peristiwa alamiah, maka apabila suatu kondisi sudah tidak mampu lagi menjawab tantangan zaman, sekuat apapun distorsinya, cepat atau lambat perubahan pasti akan terjadi. Mengutip Angelus Silesius (1624-1677) bahwa semakin kita membiarkan setiap suara bernyanyi dengan nadanya sendiri, semakin kaya keanekaragaman nyanyian yang dilagukan dengan serempak.

Yang dimaksud rasional atas adalah menggunakan akal pikiran sebagai landasan ide dan kemampuan kita membaca realitas sosial yang berkembang. Seperti yang dikatakan Rene Descartes (1596-1650) bahwa dalam masalah-masalah yang hendak kita selidiki, penyelidikan kita haruslah diarahkan, bukan pada apa yang dipikirkan oleh orang lain, juga bukan pada apa yang kita perkirakan sendiri sendiri, namun pada apa yang bisa kita simpulkan secara pasti, karena pengetahuan tidak bisa diperoleh dengan cara lain. Sekilas memang tampak konradiktif dengan cara hegel tesis-antitesis-sintesis. Tetapi sebenarnya tidak. Yang ada pertama adalah realita. Dari sini kita menggunakan pernyataan Descartes tadi. Maka akan timbul ilmu pengetahuan (baca:ide) yang baru. Dan tidak menutup kemungkinan hal ini akan dilakukan oleh banyak orang sehingga akan menghasilkan lebih banyak ide. Sehingga kemudian pertukaran pemikiran terjadi dan sintesispun akan terjadi. Dari sintesis ini dapat dijadikan rekomendasi untuk melahirkan sebuah perubahan. Inilah proses ”alami” itu. Tidak demikian halnya apabila kita sedang bersandiwara. Untuk itulah pertukaran pemikiran menjadi penting dan resistensi lebih penting lagi untuk menciptakan tata kehidupan yang seimbang. Agar proses-proses ini berjalan efektif diperlukan suatu iklim yang demokratis dan intelektual. Iklim intelektual diperlukan dalam upaya penciptaan ide. Dan secara singkat demokrasi diperlukan untuk menyemarakkan ide dan resistensi. Serta mencegah otoriternya penguasa sehingga sandiwara terhadap perubahan dengan otomatis dapat dicegah. Yang dimaksud resistensi disini adalah perlawanan ide. Resistensi perlu dikembangkan, selain tentunya perlu mengembangkan sikap toleransi atas perbedaan pendapat yang terjadi. Semakin banyak ide berkembang maka peluang keterjadian sebuah perubahan menjadi lebih besar dan lebih mampu menciptakan perubahan yang berkualitas. Bisa dibayangkan pula apabila dalam suatu komunitas dipimpin oleh otoritas yang begitu dominan, maka siapapun yang pasti tidak akan bisa menjamin akan terjadi sebuah perubahan berkualitas dan bisa mengakomodasi setiap kepentingan dalam komunitas yang dipimpinnya. Dan apa yang terjadi kemudian adalah menciptakan sebuah sandiwara tentang perubahan sebagai sebuah formalitas untuk menciptakan suatu kondisi seolah-olah paham akan perubahan realitas sosial yang terjadi karena kekuasaan ada dan didapat untuk dipertahankan, tidak hanya lewat personal, tetapi meliputi juga kepentingan dan pemikiran. Pada akhirnya proses perubahan ini haruslah diarahkan kepada sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga bisa menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan yang lebih baik pula.

Lalu bagaimana dengan negara kita? masyarakat kita? Yang jelas kita percaya manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi derajadnya, yang dianugerahi akal dan pikiran yang paling baik kualitasnya. Adakalanya kita harus berfikir dan bertindak secara kritis dan objektif, meskipun pahit. Apalagi sebagai seorang mahasiswa yang notabene dibesarkan oleh tradisi intelektual yang kental, kejujuran kita untuk berfikir dan bertindak sangat diperlukan. Maka tak heran apabila ada yang mengatakan bahwa tanggung jawab intelektual adalah tentang pengabdian. Dan perubahan adalah salah satunya.

Bertindaklah sedemikian rupa sehingga selalu menghargai kemanusiaan, baik yang terdapat dalam dirimu sendiri maupun sembarang orang lain, bukan hanya sebagai sarana, melainkan sebagai tujuan. Immanuel Kant (1724-1804)
on Minggu, 01 Februari 2009
Sejarah, adalah sebuah realita yang tidak bisa terelakkan dari sebuah makna yang dinamakan kehidupan. Dengan segala keharubiruannya, sejarah tetap saja sejarah dan ia adalah bagian dari masa lalu. Dengannya manusia seharusnya bisa belajar bagaimana menghadapi dunianya. Karena bangsa yang besar (katanya) adalah bangsa yang menghargai sejarahnya dan manusia yang arif adalah manusia yang menghargai sejarah dirinya. Bukan saja sekedar sarana refleksi, tetapi lebih dari itu, kitalah yang membuat kegemilangan sejarah kita dimasa depan.

Sejarah manusia seringkali diwarnai dengan penindasan. Tak terkecuali bangsa kita. Bangsa besar yang seharusnya bisa menjadikan dirinya lebih besar dari sekarang. Sebuah bangsa yang tidak tahu mengapa, bisa menjadi terjajah lebih dari tiga abad lamanya. Dimana telah berhasil merasuk ke alam bawah sadar kita sebagai manusia merdeka bahkan sampai saat ini.

Penindasan dengan segala bentuknya pasti sangat menyesakkan. Lihat bagaimana bangsa kita menderita karena penindasan ini. Manusia sebagai subyek dari peradaban seakan-akan tidak lagi dihargai karena adanya penindasan ini. Dan lebih ironis, penindasan terhadap bangsa kita selalu saja dilakukan oleh mereka yang selalu menganggap bahwa dirinya adalah manusia beradab. Paling tidak sampai sejauh ini. Ironisnya kitapun mengembik begitu saja seolah tanpa pernah bersentuhan dengan anak peradaban yang dinamakan pendidikan. Atau ada yang salah dengan pendidikan kita? Yang jelas, kita sebagai manusia seharusnya mencipatakan sejarah kita sendiri, bukan serta-merta oleh dibuatkan oleh mereka. Dengan otak-otak kita sendiri, dengan tangan-tangan kita sendiri dan dengan harga diri kita sendiri, sebagai manusia yang memiliki sebuah peradaban kita sendiri, dan sebagai manusia sebuah bangsa yang besar, bukan sebagai manusia yang diberikan bangsa dan peradaban oleh mereka para penindas.

Penindasan sampai kapanpun akan mencelakakan. Dan lebih mencelakakan lagi tertindas tak pernah tahu behwa mereka ditindas. Penindas kini seolah-oleh sedang bersiap-siap menendang kita dengan salah satu dari kedua kakinya, bahkan sudah berani menyuruh kita menjilat ludah yang telah dimuntahkannya. Dan celakanya sebagian dari kitapun dengan suka hati melakukannya. Dan ironoisnya, sejarah seringkali memihak kepada para penindas. Dan pertanyaan kita, masihkah sejarah menisakan sedikit ruang untuk kebebasan? Seperti yang kita tahu, kebebasan adalah puncak pengharapan dari para tertindas. Sebuah pesimisme yang bias dan bisa membawa kita sedikit berimajinasi tentang bagaimana sebenarnya kebebasan itu. Ada yang bilang kebebasan bagi menusia adalah sebuah keniscayaan. Sebuah anugerah dan hak yang patut kita perjuangkan selayaknya kita berjuang untuk hidup kita. Dan yang pasti, sifat-sifat kemanusiaan kita telah dihargai dengan kebebasan itu.

Ada sebuah korelasi logis antara kebebasan dengan eksistensi kita sebagai seorang manusia. Bahwa dari kebebasanlah manusia sebenarnya mampu mengaktualisasikan dirinya secara mandiri. Tanpa bermaksud sangat mengagungkan kebebasan, tapi hendaklah kita menganggap kebebasan ini sebagai sebuah hak. Sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dpertahankan dan diperjuangkan. Karena dari sinilah kemerdekaan kita sebagai sebuah manusia dapat terakomodasi.

Pentingnya kebebasan ini dimulai dari penyadaran bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang dinamis. Sebuah kondisi yang mengisyaratkan adanya proses “menjadi” selama ia masih menyisakan umurnya didunia. Sadar atau tidak memang demikianlah kenyataannya dan itu adalah sebuah keniscayaan. Untuk selalu dalam proses menjadi inilah manusia memerlukan kebebasan. Proses “menjadi” ini sangat penting dalam kaitannya dengan aktualisasi akan potensi manusia sebagai makhluk Tuham yang paling baik kualitasnya. Apalah artinya kita dianugerahi potensi yang begitu hebat dari Tuhan, tetapi kita tidak mampu mengoptimalkannya. Sungguh sangat disayangkan apabila kita terjebak dalam kondisi yang demikian. Dan secara lugas adalah kesia-siaan dalam hidup!! Potensi adalah untuk dimaksimalkan dan dikembangkan untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dalam konteks ini, kebebasan akan menyadarkan dan memfasilitasi fitrah kita sebagai pemimpin dimuka bumi ini. Atas dasar inilah, segala bentuk penindasan harus dimusnahkan dari bumi kita, bumi manusia..

Kita dianugerahi kaki, untuk berdiri sama tingggi dengan mereka. Kita dianugerahi mata untuk memandang sampai sejauh yang mereka pandang. Kita dianugerahi tangan untuk membalas pukulan yang mereka berikan. Kita dianugerahi otak, untuk berfikir sama baik bahkan lebih baik daripada mereka.