Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan
on Minggu, 20 Juli 2014
Salah satu pertanyaan eksistensial yang seringkali muncul adalah; Apa sebenarnya yang dicari dari hidup kita didunia? Banyak orang bijak telah menyampaikan pendapatnya. Ada yang berpendapat tujuan adalah sebisa mungkin menghindari penderitaan. Ada yang berpendapat bahwa kehidupan duniawi adalah untuk kehidupan yang lebih kekal kelak yang kemudian pendapat itu berkembang dengan segala rupa cabang.

Yang paling “mudah” untuk melihat dunia adalah melihat yang tampak, terlihat. Meskipun pada akhirnya yang tampak tersebut bisa dielaborasi sedemikian rupa sehingga ada pemaknaan yang lebih, tetapi sepertinya hanya segelintir orang yang menyadarinya dan bersusah payah mengambil makna dari setiap persinggungannya dengan sesuatu yang tampat tersebut. Dan manusia kemudian dianggap sebagai bagian dari sesuatu yang tampak tersebut. Meskipun adapula yang menganggap manusia merupakan sesuatu yang terpisah dari yang tampak karena manusia adalah subyek yang memaknai sesuatu. Keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda tentu saja.

Saya lebih suka menempatkan manusia pada wilayah terpisah dari sesuatu yang tampak tersebut. Dengan demikian kita mengakui bahwa manusia sebenarnya memiliki sesuatu yang tak tampak dan itu lebih esensial daripada sekedar yang tampak pada diri manusia. Itulah yang disebut dengan fitrah yang kemudian berwujud dalam rupa yang lebih sederhana dalam hati dan akal. Manusia memiliki sesuatu yang dengannya manusia bisa dianggap tidak sekedar apa yang tampak padanya. Meskipun kemudian disadari bahwa sisi yang tak tampak tersebut bisa berubah sifat menjadi merusak. Pada tahap inilah, ada esensi yang lebih dalam dari hal-hal yang tidak tampak tersebut, yang dengannya manusia bisa mengendalikan apa-apa yang ada padanya. Itulah yang dinamakan kehendak. Dengan demikian, maka manusia bukan benda-benda, tetapi manusialah yang mendayagunakan benda-benda tersebut untuk kepentingannya. Manusialah yang akan memanfaatkannya agar kehidupannya menjadi lebih baik, dimana ukuran lebih baik disini terkait erat dengan sistem nilai yang dianut.

Selanjutnya memang akan berbalik kembali pada sesuatu yang tak tampak pada manusia tersebut. Kepentingan manusia tersebut seperti binatang buas yang apabila tidak bisa ditaklukkan akan berdampak liar memangsa buruannya. Dan manusia, dengan segala yang ada padanya, mampu membuat sangkar yang kuat untuk menjinakkan binatang buas tersebut. Membuat sangkar tersebut menjadi sebuah sistem nilai atau menempatkannya pada sistem nilai yang lebih besar. Sistem nilai tersebut adalah buah dari kesadaran manusia bahwa memang ada sisi-sisi dalam yang tak tampak pada manusia yang perlu dijinakkan.

Permasalahan lebih besar kemudian muncul jika binatang-binatang buas tersebut muncul secara bersamaan sehingga tentu saja diperlukan sangkar yang lebih kuat untuk menjinakkannya. Kolektivisme binatang buas tersebut itulah yang disebut dengan kerusakan moral masyarakat. Artinya, akal dan hati lah yang akan mencegah kerusakan moral tersebut.

Dengan ancaman kerusakan kolektif dan perendahan atas harkat kemanusiaan, karena ketundukkannya pada hal-hal yang semata tampak, maka akal dan hati ibarat suatu penengah dalam suatu kekacauan. Mencarinya, untuk mendengarkannya, tentu saja menjadi suatu usaha yang harus terus menerus dilakukan selama manusia masih tampak terlihat oleh penglihatan. Artinya, penangkapan oleh indera atas suatu wujud manusia memang tidak serta merta ditanggapi dengan apriori. Ibarat sebuah pedang, maka pedang itulah diperlukan untuk melawan musuh, karena memang musuh tersebut tidak bisa dilawan dengan bertangan kosong. Entah apa pendapat masing-masing individu tentang kehidupan setelah di dunia kelak, mencari dan mendengarkan kejernihan hati dan pikiran adalah jalan untuk membuktikan ke”manusia”an kita selama kita hidup didunia.
on Selasa, 03 Desember 2013

Apa yang dicari sebenarnya, pasar ide ramai sekali disekeliling kita. Ada yang rumit serius adapula yang sederhana. Serius, istilah ini kudefinisikan dengan “lurus”. Tak ada permainan emosi, yang ada adalah logika dan rasionalitas, entah yang timbul dengan sendirinya atau dipaksakan. Dalam kasus rasionalitas yang dipaksakan, prakondisi telah dirasionalisasi sedemikian rupa sehingga masuk pula dalam kaidah berfikir kita. Apakah itu ada dalam dunia nyata? Entahlah.. Dalam keseriusan, konklusi selalu bisa diambil. Dan satu hal, seringkali serius tidak asik..

Lantas apapula sederhana itu? sederhana itu sesuatu apa adanya tetapi seringkali menggelitik logika. Seringkali sederhana bersanding erat dengan “menggelikan”. Dan menggelikan ini bisa dilihat karena kebodohannya bisa juga karena kejeniusannya. Bagi-bagi kondom pada pekan kondom itu sederhana menurut saya, sekaligus menggelikan..:)

Para konsumen ide tentu saja harus jeli atas kondisi yang terjadi. Jangan sampai karena kemasannya dibuat sedemikian indah sehingga akan menghilangkan substansi dan hakikatnya. Konsumsi akan ide yang paling pragmatis adalah harus melihat tujuan dari konsumen tersebut. Jika mampu mencapai tujuan maka ide bisa dianggap benar. Tapi apakah tujuan yang benar itu? Tentu akan banyak parameter yang bisa digunakan. Ideolog, agamawan atau bahkan para filsuf mungkin berbeda parameter tentang hal ini. Inilah sebenarnya yang penting untuk perhatikan dengan seksama, bahwa manusia, tentu saja selalu terkait dengan kondisi lingkungan sosial yang ada padanya. Jika demikian, maka hal esensial yang perlu dipahami kemudian adalah pencarian kebenaran itu sendiri dalam konteks sosial-kultural kemasyarakatan. Itulah mengapa suatu parameter kebenaran yang dihasilkan dalam suatu konsensus lebih bertahan lama daripada parameter yang dipaksakan.

Disisi lain terdapat pula yang dinamakan proses penciptaan. Inilah konsekuensi dari adanya akal budi manusia, bahwa manusia bersifat kreatif. Kreatifitas ini akan memunculkan penciptaan dan penemuan dan inilah yang membentuk perubahan. Bahwa selama manusia mencipta maka perubahan akan selalu ada.

Konsensus dan perubahan inilah yang seharusnya berjalan seiring. Bahwa perubahan hendaknya melalui konsensus dan konsensus ada juga untuk perubahan meski juga tidak semata-mata. Pada akhirnya dialektika wacana menjadi penting. Entah metode apapun yang dilaksanakan, yang penting harus didasari niat dari hari tulus untuk selalu mencari kebenaran (parameter). Dengan dengan adanya hati (dan juga emosi) inilah, dunia manusia menjadi lebih berwarna karena bisa menetralisir keseriusan kita sekaligus bukan tidak mungkin membawa ide pada kualitas menggelitik logika dengan caranya yang cerdas.

Dan pada akhirnya bisa dikata konsensus, perubahan dan ide, Itulah kata kunci bagi harmonisasi. Mudah sekali sebenarnya.. dan saya kita dengan konsensus pancasila dan bhineka tunggal ika, pendahulu kita adalah orang-orang yang sederhana, karena mereka jenius.. :)
on Rabu, 18 September 2013

Saat ini kau hanya bisa bilang saat itu. Waktu konon tak bersemayam dalam setiap diri manusia. Bukan sebuah materi, tetapi seperti halnya materi, yang dengannya pertentangan bisa bermula. Menyadari saat itu disaat ini kata orang terlambat, karena waktu tidak bisa berbalik. Menggilas dengan kejam manusia-manusia yang terlena, dan hingga saatnya tiba, waktu bisa menjadi pemicu pertentangan dalam dirinya; penyesalan. Hanya manusia yang mengenal dirinya yang mampu mensemayamkan waktu. Seperti udara yang bisa kita rasakan sewaktu menyadarinya, ia pun demikian. Terus berhembus, seolah yang ada (atau memang yang benar-benar ada?) adalah yang hinggap didepan keadaan kita.

Waktu lampau sudah tidak ada, berpindah dan bersemanyam, entah di dunia mana. Mungkin di dunia khayalan. Setiap manusia tentu saja mempunyai dunia khayalnya. Terkadang mengotak-atiknya, sehingga sesuatu yang memang tidak pernah ada menjadi seolah ada dan nyata. Karena, bukankah tak ada beda antara yang pernah ada dengan yang tak pernah ada di dunia khayal manusia. Dunia yang sangat indah bagi sebagian orang, karena ia bebas menciptakan apa saja.

Waktu mendatang tentu saja belum ada, dan belum pernah ada. Aktualisasi dunia khayal mendapat wilayah yang cukup lebar dan nyaman. Manusia bisa mengantisipasi sejarahnya.  Dan dengan kondisi-kondisi tertentu manusia tentu saja bisa merubah “waktu lalu” diwilayah ini. Menghilangkan rasa penyesalan hingga akhirnya ia terbebas dari belenggu khayalan. Proses penciptaan yang dramatis, karena memang manusia adalah makhluh yang berkendak.

Dengan waktu  manusia bisa berubah. Pembacaan waktu dengan bijak bisa memunculkan apa yang dinamakan hikmah. Hikmah bukan candu. Menjadikan hikmah sebagai pembenaran akan kelemahan bisa membawa kearah stagnasi yang memabukkan. Kelemahan bisa menjadi pembenar atas segala kenyamanan. Bisa jadi ia adalah kompromi dua kutub yang berseberangan. Dan waktu.. seolah ia berdiri disuatu tempat yang rapat, mengamati kita dengan sunyumnya...
on Kamis, 05 September 2013
Bertanyaku dan aku ingin terus bertanya
Bukan hanya tentang siapa aku..
tetapi juga ingin kutemukan maksud dalam ketiadaanku

Jika jalan menanjak berliku yang harus kugapai..
aku rela sebenarnya
Akan kudaki sampai habis bukit itu kujelajahi
Tapi jika itu hanya semisal pencarian jati diri..
terbata aku dan aku sedikit bimbang menimbang saran
Karena dengan adaku, aku sebenarnya tiada dan..
puncak bukit itu sepertinya tak berada dimana-mana

Pada saatnya kelak aku tak ingin sekedar tahu maksud keberadaanku ini
Kata orang ini melelahkan
Tapi jika ia benar adanya, biar peluhku menjadi saksi dan...
semoga mampu mengikis kesombonganku
Kenistaan menjadi penghalang bagi kemesraan
Dan pada akhirnya..
dengannya aku ingin benar menyadari jika aku bukan siapa-siapa

Tentang menjadi mungkin hanya pelampiasan ego diri
Sarana diantara kuasa masa menyingkap tabir fana
Jika ini hanya persinggahan...
aku ingin menjalaninya dengan anugerahku sebagai manusia
Meski kuyakin benar ini bukan tujuan
Tetapi aku tetap bersyukur karena inilah kita berdekatan
Mungkin memang belum pantas aku mengerti..
dan karenanya aku mulai sadari
Sesungguhnya aku bersyukur atas tanyaku ini


disuatu sore dipinggir pantai
on Senin, 02 September 2013
Ya atau tidak sama sekali. Terkadang memang tak ada jalan tengah, dan mengharuskan memilih antara dua sisi yang bertentangan. Jalan tengah memang mengenakkan, cenderung aman dan sedikit, mungkin, memuaskan. Tapi apalah arti sisi-sisi kalo seandainya harus dipilih jalan tengah?? Satu sisi terkadang lahir tidak untuk berkompromi, meski godaan pragmatis selalu ada. Sisi-sisi lahir untuk memberi pilihan, sebuah pilihan yang seringkali ada untuk dimodifikasi, disintesa sedemikian rupa sehingga melahirkan sisi-sisi yang lain, entah reproduksi yang bernuansa pertentangan atau hanya omong kosong belaka. Pilihan selalu ada kata mereka, tapi tidak untuk sisi yang ekstrim, begitulah kata sang pemuja kejumudan.

Sisi seringkali mengalami ironi-ironi stagnasi, yang dikomoditaskan atas nama kebebasan. Dengung perubahan selalu memberi harapan, tapi mungkin saja tidak bagi sisi. Ia terkadang memiliki dunia sendiri, dengan kamuflasenya yang sangat kreatif, sebuah proses rasional yang seringkali menjebak pada ketidakrasionalan masal, entah karena persepsi, pencitraan, atau bahkan mungkin adu domba khas kolonial. Sisi bukan semata-mata pilihan, karenanya ia harus berpihak pada fitrah keberpihakan keadilan. Subjektif, tapi jusru itulah arti kemanusiaan bisa berwujud, dan karenanya bisa dipahami. Sisi adalah tujuan pilihan yang semoga saja rasional. Sisi lain katanya selalu ada, meski hanya satu sisi yang diakui kebenaran. Tapi bukankah tak ada kebenaran yang abadi?? Sisi terkadang berkonfrontasi dengan waktu, dengan kultur, dan pada akhirnya menjadi sejarah yang hanya dibaca dibuku pelajaran dan bisa jadi hanya pajangan. Memahami sisi bukan hanya bermimpi, tapi lebih dari itu, menjadi nyata untuk membawanya pada realitas yang sesungguhnya, begitulah mungkin produksi sisi bermula. Ia menjadi lemah karena tidak menarik, menjadi lemah karena represif penguasa, atau bahkan menjadi lemah hanya gara-gara hasutan tak berdasar. Tapi sisi tetap sisi, selalu menarik untuk disetubuhi, hingga akhirnya kita sadar, ekstrimism adalah suatu keniscayaan.
Malam itu, Marie singgah ke tempatku. Ia bertanya apakah aku ingin menikahinya. Kujawab aku tak keberatan dan kami bisa melakukannya jika ia menginginkan. Ia juga ingin tahu apakah aku mencintainya. Kujawab seperti yang pernah kukatakan bahwa itu tak berarti apapun tapi aku mungkin tidak begitu.

“Lantas kenapa mau menikahiku?” tanya ia. Kujelaskan itu bukan masalah dan jika ia menginginkan  dan kujawab saja ya. Ia melanjutkan bahwa pernikahan adalah soal serius. Kusahut tidak. Ia tak berkata apapun untuk sesaat dan memandangiku dengan diam.

Lalu ia bicara. Ia hanya ingin tahu apakah aku menerima ajakan yang sama jika berasal dari wanita lain yang menjalin hubungan denganku. Kujawab, “Tentu saja.” Ia melanjutkan, dirinya bertanya-tanya apakah mencintaiku dan kukatakan aku tak tahu tentang itu. Satelah sunyi sebentar, ia menggumam bahwa aku aneh dan mungkin itu sebabnya ia mencintaiku, tapi suatu hari mungkin aku memuakkan untuk sebab yang sama. Aku tak berkata apapun karena tak ada yang perlu ditambahkan.  Ia tersenyum, meraih tanganku dan mengatakan ingin menikahiku. Kujawab kami akan melakukannya kapanpun ia mau.

 (dikutip dari Sang Pemberontak, Albert Camus)

……..
Dengan masih menggenggam sepucuk surat ditangannya, Rani berjalan keluar dari Gedung Rektorat. Berkeliling sebentar, ia bersandar di tempat duduk rindang disamping gedung megah itu. Setelah semua urusannya selesai ia ingin segera membaca surat ditangannya yang diberikan Ardi tadi di dalam gedung. Rasa ingin tahu masih bergelayut. Ia mulai membuka dan membaca…


Sebenarnya

Aku sebenarnya ingin mempercayaimu. Bukan hanya karena engkau adalah kekasihku, tetapi lebih dari itu.. bahwa aku sesungguhnya sedang berhasrat untuk memupus keinginan egoku bahwa akulah yang senantiasa benar. Jika aku pada suatu waktu pernah berkata tentang sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan, percayalah bahwa itu sesungguhnya bukan maksud dan hasratku berkata demikian, melainkan hanya upayaku saja untuk berkawan pada kejujuran. Dan pada akhirnya, tak bisa kupungkiri aku memang berharap kau mempercayaiku.

Mungkin kau bilang aku hanya mau menang sendiri, hanya menuntut tapi tak mau bersusah payah dengan  kepatutan. Seperti timbangan yang seharusnya berimbang seimbang, tanpa sela kecurangan. Atas hal itu, akupun mengerti sebenarnya.  Hanya entah mengapa sekujur tubuh ini dibuat kaku oleh hal-hal yang tidak aku pahami. Mungkin suatu saat nanti kau bisa memberitahukanku apa itu sebenarnya.

Aku sebenarnya juga tidak ingin menyakitimu. Jika ada ucap dan langkah yang tak berkenan, aku berharap kelapangan hatimu. Hanya saja aku malu. Berkali kuucap maaf dan berkali pula maaf itu hilang tanpa arti untuk apa ia sebenarnya ada. Dan anehnya lidahku tanpa kelu selalu berucap, sungguh tak tahu malu. Kini maaf itu seperti kata tanpa makna, karena begitu mudahnya ia bertabur kesana kemari. Mungkin maaf itu kini seperti pasir di pantai. Dan jika memang begitu adanya, kurasa kau pantas mengambil segenggam dan kau lempar ke mukaku sampai aku kehabisan kata-kata.

Mungkin perlu kuulangi lagi, sebenarnya aku tak ingin menyakitimu. Aku masih ingat ketika kau bilang berpasangan adalah tentang saling. Saling berbagi, saling menyayangi, dan saling saling yang lain, yang dengannya kita, yang memiliki dua eksistensi ini, pada akhirnya bisa lebih dari bersama, meski terlalu muluk juga jika kusebut menyatu. Aku dan kamu berbeda itu sudah pasti. Dan kita punya cita-cita itu juga mahfum adanya. Tapi aku benar-benar tak habis pikir, mengapa aku bisa sebebal itu, tak melibatkan kau dalam dunia yang aku ciptakan di otak pandirku.

Kawan bilang ini tentang ego. Entah apa maksud ego itu, tetapi yang ada dikepalaku sekarang adalah sebenarnya aku ingin membuktikan rasa sayangku padamu. Aku ingin mengingatkanmu untuk tak lupa makan ketika kau sedang sibuk dengan tugas kuliahmu. Aku ingin melukis wajahmu untuk lebih menyadari betapa cantik dirimu dimataku. Aku ingin bernyayi untukmu saat kau sedang sepi hati. Aku ingin selalu ada untukmu dan aku ingin mengecup keningmu sebenarnya..

Aku sebenarnya takut kehilanganmu. Ini bukan klise. Dan aku bingung juga sebenarnya, entah mengapa kata-kata ini sering muncul dilirik lagu seniman kita. Apa memang seniman kita sedemikian cerdasnya sehingga mampu menangkap sisi kejiwaan beribu pasangan ataukah aku yang sedemikian bodohnya sehingga begitu mudahnya termakan sugesti lirik yang berjejalan dipanggung absurd kita. Aaah..siapa pula yang membuat panggung itu. Entah…

Dan aku sebenarnya takut kehilanganmu. Mungkin kau ingat ketika beberapa lama kita tak berhubungan sama sekali. Mungkin kau pikir aku tak membutuhkanmu lagi. Bukan itu sebenarnya yang ada dibenakku. Aku sangat kesepian sebenarnya. Ada sisi kosong dihatiku jika kau tinggalkanku, karena aku sudah nyaman dengan hadirnya kau disisi-sisi itu. Dan aku berterima kasih padamu, kau mau singgah didalamnya meskipun mungkin itu bukan persinggahan yang nyaman bagimu. Jika kata orang lelaki terkadang perlu waktu menyendiri, sebenarnya itu tak sedang terjadi padaku disaat itu. Aku hanya malu pada kesabaranmu, pada besarnya pengertianmu padaku. Dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berterima kasih sampai sekarang kau setia menungguku, meski kutahu sebenarnya tangismu lebih banyak dari tawa riang hatimu.

Dan sayangku.. aku hanya ingin mengatakan aku benar menyayangimu. Jika dulu kau bilang aku peragu, percayalah sudah kupupus habis keraguan itu sekarang. Aku memang tak bisa menjanjikanmu apapun karena aku tidak punya apa-apa yang bisa dijanjikan. Sudah bisa kuliah dan karenanya bertemu denganmu itu sudah menjadi bagian indah dalam kenanganku kelak. Yang aku punya hanya satu sisi hati yang aku kosongkan untukmu yang mulai sekarang akan kubuat kau nyaman bersemayam didalamnya. Aku tak ingin kehilanganmu sebenarnya, tapi aku bukan apa-apa bukan pula siapa-siapa. Aku sadar sekarang, aku tak pantas berharap lebih darimu..

Salam,
Ardi

Dan untuk kesekian kalinya Ardi mampu mengaduk-aduk hatinya yang memang mulai bimbang. Ia yakin Ardi orang baik dan ia merasakannya. Tetapi……
…..
Manusia tampak selalu beranjak pada sebuah kata. Sesaat menghirup jiwa dari resi-resinya yang hanya meninggalkan sabda. Sesaat lagi saling bercengkrama tentang sesuatu yang tak ia pahami. Manusia pada akhirnya memang hanya bisa berkata-kata

Manusia itu kemudian berjalan dihutan-hutan belantara untuk mencari makna atas nama kebijakan. Ia membawa seuntai dogma yang ia sendiripun bahkan tak tau apakah itu berguna untuknya. Manusia itu kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya tentang apa yang ia dapati. “Lepaskan saja jubahmu, biar kami tahu siapa engkau” kata muridnya sambil menangis menahan asa yang tak terselesaikan. Sebuah kata yang berakhir pada penyesalan. Sebuah tujuan yang terkapar tak tahu buat apa dia sekarang. Itulah makna-makna bertebaran atas nama penghormatan. Manusia memang selalu kebingungan tentang siapa dirinya.
on Selasa, 20 Agustus 2013
…..
Suara ilahi memenuhi langit, sehingga Rama tidak mendengar sorak sorai hadirin yang menyambut kemenangannya. “Rama, apa artinya cinta yang kau dapat dengan panah yang harus ditarik dengan gandewa? Gandewa itu adalah kehidupanmu sendiri, yang harus kau tarik dan kau berikan bila cinta menuntutmu demikian. Itu berat Rama, sebab siapakah yang mau melepaskan kehidupannya. Lihatlah para raja yang gagal menarik gandewa, karena sebenarnya mereka tidak merelakan hidupnya. Tapi bila kau mau melepaskan hidupmu dengan jujur, anak panah itu akan melesat dengan sendirinya dan mengenai sasarannya. Dengan kerelaan akan kehidupanmu itulah, maka seseorang bisa terpanah hatinya.”

“Tapi ingatlah Rama, bahwa agungnya cinta tidak dapat digambarkan seperti apapun. Cinta selalu lebih besar daripada segala-galanya, termasuk hidupmu sendiri. Maka jangan kau merasa sudah menguasai cinta dengan anak panahmu yang telah mengenai sasarannya, tapi sebaliknya pasrahkanlah dirimu kepada cinta untuk dikuasainya.”

“Karena itu Rama, jangan kau mengelak bila cinta kelak menuntutmu untuk menderita. Kini kau berdiri di bawah permadani emas dari hari-hari kebahagiaanmu, tapi sebentar lagi justru cinta yang akan menuntunmu ke dalam samudera yang penuh dengan penderitaan. Kau kini merasakan kepahitannya. Seperti dikatakan pendeta di hutan ang meramalkan hidupmu, kebahagiaanmu hari ini adalah awal dari penderitaanmu, demi tugasmu sebagai titisan Batara Wisnu.” Suara langit bicara dalam keilahiannya.

Suara mengesankan itu tiba-tiba menghilang. Dan terdengar hiruk-pikuk di sekitar halaman istana. Hadirin bersorak-sorai menyaksikan kemenangan Rama. Rama seperti tersadar dari mimpi dan tiba-tiba berdiri dihadapannya Prabu Janaka dan putrinya Dewi Sinta. “Biarlah dewa-dewa menjadi saksi kemenanganmu. Inilah putriku Sinta, cintailah dia lebih dari hidupmu sendiri. Semoga ia menjadi kekasihmu yang setia. Jadikanlah dia teman dalam setiap perjalanan hidupmu. Bahagiakanlah putriku ini, dalam kesenangan maupun penderitaan. Satria, terimalah anakku,” kata Prabu Janaka

….. 

(dikutip dari Anak Bajang Menggiring Angin; Sindhunata)