on Jumat, 08 November 2013
on Rabu, 18 September 2013

Saat ini kau hanya bisa bilang saat itu. Waktu konon tak bersemayam dalam setiap diri manusia. Bukan sebuah materi, tetapi seperti halnya materi, yang dengannya pertentangan bisa bermula. Menyadari saat itu disaat ini kata orang terlambat, karena waktu tidak bisa berbalik. Menggilas dengan kejam manusia-manusia yang terlena, dan hingga saatnya tiba, waktu bisa menjadi pemicu pertentangan dalam dirinya; penyesalan. Hanya manusia yang mengenal dirinya yang mampu mensemayamkan waktu. Seperti udara yang bisa kita rasakan sewaktu menyadarinya, ia pun demikian. Terus berhembus, seolah yang ada (atau memang yang benar-benar ada?) adalah yang hinggap didepan keadaan kita.

Waktu lampau sudah tidak ada, berpindah dan bersemanyam, entah di dunia mana. Mungkin di dunia khayalan. Setiap manusia tentu saja mempunyai dunia khayalnya. Terkadang mengotak-atiknya, sehingga sesuatu yang memang tidak pernah ada menjadi seolah ada dan nyata. Karena, bukankah tak ada beda antara yang pernah ada dengan yang tak pernah ada di dunia khayal manusia. Dunia yang sangat indah bagi sebagian orang, karena ia bebas menciptakan apa saja.

Waktu mendatang tentu saja belum ada, dan belum pernah ada. Aktualisasi dunia khayal mendapat wilayah yang cukup lebar dan nyaman. Manusia bisa mengantisipasi sejarahnya.  Dan dengan kondisi-kondisi tertentu manusia tentu saja bisa merubah “waktu lalu” diwilayah ini. Menghilangkan rasa penyesalan hingga akhirnya ia terbebas dari belenggu khayalan. Proses penciptaan yang dramatis, karena memang manusia adalah makhluh yang berkendak.

Dengan waktu  manusia bisa berubah. Pembacaan waktu dengan bijak bisa memunculkan apa yang dinamakan hikmah. Hikmah bukan candu. Menjadikan hikmah sebagai pembenaran akan kelemahan bisa membawa kearah stagnasi yang memabukkan. Kelemahan bisa menjadi pembenar atas segala kenyamanan. Bisa jadi ia adalah kompromi dua kutub yang berseberangan. Dan waktu.. seolah ia berdiri disuatu tempat yang rapat, mengamati kita dengan sunyumnya...
on Kamis, 05 September 2013
Bertanyaku dan aku ingin terus bertanya
Bukan hanya tentang siapa aku..
tetapi juga ingin kutemukan maksud dalam ketiadaanku

Jika jalan menanjak berliku yang harus kugapai..
aku rela sebenarnya
Akan kudaki sampai habis bukit itu kujelajahi
Tapi jika itu hanya semisal pencarian jati diri..
terbata aku dan aku sedikit bimbang menimbang saran
Karena dengan adaku, aku sebenarnya tiada dan..
puncak bukit itu sepertinya tak berada dimana-mana

Pada saatnya kelak aku tak ingin sekedar tahu maksud keberadaanku ini
Kata orang ini melelahkan
Tapi jika ia benar adanya, biar peluhku menjadi saksi dan...
semoga mampu mengikis kesombonganku
Kenistaan menjadi penghalang bagi kemesraan
Dan pada akhirnya..
dengannya aku ingin benar menyadari jika aku bukan siapa-siapa

Tentang menjadi mungkin hanya pelampiasan ego diri
Sarana diantara kuasa masa menyingkap tabir fana
Jika ini hanya persinggahan...
aku ingin menjalaninya dengan anugerahku sebagai manusia
Meski kuyakin benar ini bukan tujuan
Tetapi aku tetap bersyukur karena inilah kita berdekatan
Mungkin memang belum pantas aku mengerti..
dan karenanya aku mulai sadari
Sesungguhnya aku bersyukur atas tanyaku ini


disuatu sore dipinggir pantai
on Senin, 02 September 2013
Ya atau tidak sama sekali. Terkadang memang tak ada jalan tengah, dan mengharuskan memilih antara dua sisi yang bertentangan. Jalan tengah memang mengenakkan, cenderung aman dan sedikit, mungkin, memuaskan. Tapi apalah arti sisi-sisi kalo seandainya harus dipilih jalan tengah?? Satu sisi terkadang lahir tidak untuk berkompromi, meski godaan pragmatis selalu ada. Sisi-sisi lahir untuk memberi pilihan, sebuah pilihan yang seringkali ada untuk dimodifikasi, disintesa sedemikian rupa sehingga melahirkan sisi-sisi yang lain, entah reproduksi yang bernuansa pertentangan atau hanya omong kosong belaka. Pilihan selalu ada kata mereka, tapi tidak untuk sisi yang ekstrim, begitulah kata sang pemuja kejumudan.

Sisi seringkali mengalami ironi-ironi stagnasi, yang dikomoditaskan atas nama kebebasan. Dengung perubahan selalu memberi harapan, tapi mungkin saja tidak bagi sisi. Ia terkadang memiliki dunia sendiri, dengan kamuflasenya yang sangat kreatif, sebuah proses rasional yang seringkali menjebak pada ketidakrasionalan masal, entah karena persepsi, pencitraan, atau bahkan mungkin adu domba khas kolonial. Sisi bukan semata-mata pilihan, karenanya ia harus berpihak pada fitrah keberpihakan keadilan. Subjektif, tapi jusru itulah arti kemanusiaan bisa berwujud, dan karenanya bisa dipahami. Sisi adalah tujuan pilihan yang semoga saja rasional. Sisi lain katanya selalu ada, meski hanya satu sisi yang diakui kebenaran. Tapi bukankah tak ada kebenaran yang abadi?? Sisi terkadang berkonfrontasi dengan waktu, dengan kultur, dan pada akhirnya menjadi sejarah yang hanya dibaca dibuku pelajaran dan bisa jadi hanya pajangan. Memahami sisi bukan hanya bermimpi, tapi lebih dari itu, menjadi nyata untuk membawanya pada realitas yang sesungguhnya, begitulah mungkin produksi sisi bermula. Ia menjadi lemah karena tidak menarik, menjadi lemah karena represif penguasa, atau bahkan menjadi lemah hanya gara-gara hasutan tak berdasar. Tapi sisi tetap sisi, selalu menarik untuk disetubuhi, hingga akhirnya kita sadar, ekstrimism adalah suatu keniscayaan.
Malam itu, Marie singgah ke tempatku. Ia bertanya apakah aku ingin menikahinya. Kujawab aku tak keberatan dan kami bisa melakukannya jika ia menginginkan. Ia juga ingin tahu apakah aku mencintainya. Kujawab seperti yang pernah kukatakan bahwa itu tak berarti apapun tapi aku mungkin tidak begitu.

“Lantas kenapa mau menikahiku?” tanya ia. Kujelaskan itu bukan masalah dan jika ia menginginkan  dan kujawab saja ya. Ia melanjutkan bahwa pernikahan adalah soal serius. Kusahut tidak. Ia tak berkata apapun untuk sesaat dan memandangiku dengan diam.

Lalu ia bicara. Ia hanya ingin tahu apakah aku menerima ajakan yang sama jika berasal dari wanita lain yang menjalin hubungan denganku. Kujawab, “Tentu saja.” Ia melanjutkan, dirinya bertanya-tanya apakah mencintaiku dan kukatakan aku tak tahu tentang itu. Satelah sunyi sebentar, ia menggumam bahwa aku aneh dan mungkin itu sebabnya ia mencintaiku, tapi suatu hari mungkin aku memuakkan untuk sebab yang sama. Aku tak berkata apapun karena tak ada yang perlu ditambahkan.  Ia tersenyum, meraih tanganku dan mengatakan ingin menikahiku. Kujawab kami akan melakukannya kapanpun ia mau.

 (dikutip dari Sang Pemberontak, Albert Camus)

……..
Dengan masih menggenggam sepucuk surat ditangannya, Rani berjalan keluar dari Gedung Rektorat. Berkeliling sebentar, ia bersandar di tempat duduk rindang disamping gedung megah itu. Setelah semua urusannya selesai ia ingin segera membaca surat ditangannya yang diberikan Ardi tadi di dalam gedung. Rasa ingin tahu masih bergelayut. Ia mulai membuka dan membaca…


Sebenarnya

Aku sebenarnya ingin mempercayaimu. Bukan hanya karena engkau adalah kekasihku, tetapi lebih dari itu.. bahwa aku sesungguhnya sedang berhasrat untuk memupus keinginan egoku bahwa akulah yang senantiasa benar. Jika aku pada suatu waktu pernah berkata tentang sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan, percayalah bahwa itu sesungguhnya bukan maksud dan hasratku berkata demikian, melainkan hanya upayaku saja untuk berkawan pada kejujuran. Dan pada akhirnya, tak bisa kupungkiri aku memang berharap kau mempercayaiku.

Mungkin kau bilang aku hanya mau menang sendiri, hanya menuntut tapi tak mau bersusah payah dengan  kepatutan. Seperti timbangan yang seharusnya berimbang seimbang, tanpa sela kecurangan. Atas hal itu, akupun mengerti sebenarnya.  Hanya entah mengapa sekujur tubuh ini dibuat kaku oleh hal-hal yang tidak aku pahami. Mungkin suatu saat nanti kau bisa memberitahukanku apa itu sebenarnya.

Aku sebenarnya juga tidak ingin menyakitimu. Jika ada ucap dan langkah yang tak berkenan, aku berharap kelapangan hatimu. Hanya saja aku malu. Berkali kuucap maaf dan berkali pula maaf itu hilang tanpa arti untuk apa ia sebenarnya ada. Dan anehnya lidahku tanpa kelu selalu berucap, sungguh tak tahu malu. Kini maaf itu seperti kata tanpa makna, karena begitu mudahnya ia bertabur kesana kemari. Mungkin maaf itu kini seperti pasir di pantai. Dan jika memang begitu adanya, kurasa kau pantas mengambil segenggam dan kau lempar ke mukaku sampai aku kehabisan kata-kata.

Mungkin perlu kuulangi lagi, sebenarnya aku tak ingin menyakitimu. Aku masih ingat ketika kau bilang berpasangan adalah tentang saling. Saling berbagi, saling menyayangi, dan saling saling yang lain, yang dengannya kita, yang memiliki dua eksistensi ini, pada akhirnya bisa lebih dari bersama, meski terlalu muluk juga jika kusebut menyatu. Aku dan kamu berbeda itu sudah pasti. Dan kita punya cita-cita itu juga mahfum adanya. Tapi aku benar-benar tak habis pikir, mengapa aku bisa sebebal itu, tak melibatkan kau dalam dunia yang aku ciptakan di otak pandirku.

Kawan bilang ini tentang ego. Entah apa maksud ego itu, tetapi yang ada dikepalaku sekarang adalah sebenarnya aku ingin membuktikan rasa sayangku padamu. Aku ingin mengingatkanmu untuk tak lupa makan ketika kau sedang sibuk dengan tugas kuliahmu. Aku ingin melukis wajahmu untuk lebih menyadari betapa cantik dirimu dimataku. Aku ingin bernyayi untukmu saat kau sedang sepi hati. Aku ingin selalu ada untukmu dan aku ingin mengecup keningmu sebenarnya..

Aku sebenarnya takut kehilanganmu. Ini bukan klise. Dan aku bingung juga sebenarnya, entah mengapa kata-kata ini sering muncul dilirik lagu seniman kita. Apa memang seniman kita sedemikian cerdasnya sehingga mampu menangkap sisi kejiwaan beribu pasangan ataukah aku yang sedemikian bodohnya sehingga begitu mudahnya termakan sugesti lirik yang berjejalan dipanggung absurd kita. Aaah..siapa pula yang membuat panggung itu. Entah…

Dan aku sebenarnya takut kehilanganmu. Mungkin kau ingat ketika beberapa lama kita tak berhubungan sama sekali. Mungkin kau pikir aku tak membutuhkanmu lagi. Bukan itu sebenarnya yang ada dibenakku. Aku sangat kesepian sebenarnya. Ada sisi kosong dihatiku jika kau tinggalkanku, karena aku sudah nyaman dengan hadirnya kau disisi-sisi itu. Dan aku berterima kasih padamu, kau mau singgah didalamnya meskipun mungkin itu bukan persinggahan yang nyaman bagimu. Jika kata orang lelaki terkadang perlu waktu menyendiri, sebenarnya itu tak sedang terjadi padaku disaat itu. Aku hanya malu pada kesabaranmu, pada besarnya pengertianmu padaku. Dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berterima kasih sampai sekarang kau setia menungguku, meski kutahu sebenarnya tangismu lebih banyak dari tawa riang hatimu.

Dan sayangku.. aku hanya ingin mengatakan aku benar menyayangimu. Jika dulu kau bilang aku peragu, percayalah sudah kupupus habis keraguan itu sekarang. Aku memang tak bisa menjanjikanmu apapun karena aku tidak punya apa-apa yang bisa dijanjikan. Sudah bisa kuliah dan karenanya bertemu denganmu itu sudah menjadi bagian indah dalam kenanganku kelak. Yang aku punya hanya satu sisi hati yang aku kosongkan untukmu yang mulai sekarang akan kubuat kau nyaman bersemayam didalamnya. Aku tak ingin kehilanganmu sebenarnya, tapi aku bukan apa-apa bukan pula siapa-siapa. Aku sadar sekarang, aku tak pantas berharap lebih darimu..

Salam,
Ardi

Dan untuk kesekian kalinya Ardi mampu mengaduk-aduk hatinya yang memang mulai bimbang. Ia yakin Ardi orang baik dan ia merasakannya. Tetapi……
…..
Manusia tampak selalu beranjak pada sebuah kata. Sesaat menghirup jiwa dari resi-resinya yang hanya meninggalkan sabda. Sesaat lagi saling bercengkrama tentang sesuatu yang tak ia pahami. Manusia pada akhirnya memang hanya bisa berkata-kata

Manusia itu kemudian berjalan dihutan-hutan belantara untuk mencari makna atas nama kebijakan. Ia membawa seuntai dogma yang ia sendiripun bahkan tak tau apakah itu berguna untuknya. Manusia itu kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya tentang apa yang ia dapati. “Lepaskan saja jubahmu, biar kami tahu siapa engkau” kata muridnya sambil menangis menahan asa yang tak terselesaikan. Sebuah kata yang berakhir pada penyesalan. Sebuah tujuan yang terkapar tak tahu buat apa dia sekarang. Itulah makna-makna bertebaran atas nama penghormatan. Manusia memang selalu kebingungan tentang siapa dirinya.
on Selasa, 20 Agustus 2013
…..
Suara ilahi memenuhi langit, sehingga Rama tidak mendengar sorak sorai hadirin yang menyambut kemenangannya. “Rama, apa artinya cinta yang kau dapat dengan panah yang harus ditarik dengan gandewa? Gandewa itu adalah kehidupanmu sendiri, yang harus kau tarik dan kau berikan bila cinta menuntutmu demikian. Itu berat Rama, sebab siapakah yang mau melepaskan kehidupannya. Lihatlah para raja yang gagal menarik gandewa, karena sebenarnya mereka tidak merelakan hidupnya. Tapi bila kau mau melepaskan hidupmu dengan jujur, anak panah itu akan melesat dengan sendirinya dan mengenai sasarannya. Dengan kerelaan akan kehidupanmu itulah, maka seseorang bisa terpanah hatinya.”

“Tapi ingatlah Rama, bahwa agungnya cinta tidak dapat digambarkan seperti apapun. Cinta selalu lebih besar daripada segala-galanya, termasuk hidupmu sendiri. Maka jangan kau merasa sudah menguasai cinta dengan anak panahmu yang telah mengenai sasarannya, tapi sebaliknya pasrahkanlah dirimu kepada cinta untuk dikuasainya.”

“Karena itu Rama, jangan kau mengelak bila cinta kelak menuntutmu untuk menderita. Kini kau berdiri di bawah permadani emas dari hari-hari kebahagiaanmu, tapi sebentar lagi justru cinta yang akan menuntunmu ke dalam samudera yang penuh dengan penderitaan. Kau kini merasakan kepahitannya. Seperti dikatakan pendeta di hutan ang meramalkan hidupmu, kebahagiaanmu hari ini adalah awal dari penderitaanmu, demi tugasmu sebagai titisan Batara Wisnu.” Suara langit bicara dalam keilahiannya.

Suara mengesankan itu tiba-tiba menghilang. Dan terdengar hiruk-pikuk di sekitar halaman istana. Hadirin bersorak-sorai menyaksikan kemenangan Rama. Rama seperti tersadar dari mimpi dan tiba-tiba berdiri dihadapannya Prabu Janaka dan putrinya Dewi Sinta. “Biarlah dewa-dewa menjadi saksi kemenanganmu. Inilah putriku Sinta, cintailah dia lebih dari hidupmu sendiri. Semoga ia menjadi kekasihmu yang setia. Jadikanlah dia teman dalam setiap perjalanan hidupmu. Bahagiakanlah putriku ini, dalam kesenangan maupun penderitaan. Satria, terimalah anakku,” kata Prabu Janaka

….. 

(dikutip dari Anak Bajang Menggiring Angin; Sindhunata) 
Bukan itu sebenarnya yang ingin kulakukan. Kurasa kau pun demikian. Ada orang-orang disekitar kita yang konon katanya adalah obyek dari dunia yang ingin kita ciptakan. Tetapi diakui, sebenarnya tak bisa serta merta begini, karena adil adalah syarat untuk menjadi. Bukan hanya indah manis diucap dan pelengkap dari penghibur hati tetapi juga untuk sebuah keterikatan yang dinamakan janji.

Jikalau ada kata-kata umpatan, tak apalah itu dialamatkan padaku. Bukan hanya tentang apa yang pernah kulakukan, tetapi juga atas apa yang tak bisa kulakukan. Maklum adalah pembelaan, semacam penghibur bagi ketidakmampuan. Dan jika kau bilang aku lemah dan linglung..ku balas kau; ku bilang kau canggung hadapi duniamu. Untung kau diam..mungkin kau pikir aku lebih baik darimu. Barangkali terperangkap propaganda kesan yang sering ku paksakan. Tapi tak bisa kupungkiri saat itu, kutangkap juga kesanmu setelah kau berikan kesan-kesan itu. Bertanya pula sebenarnya apakah kesan itu hanyalah untukku. Tak banyak kupikirkan memang, karena yang ada dibenakku adalah kesan itu benar ada padaku. Kutangkap dan jadilah kupasang perangkap. Kau pun terpasung… mampus!

Ah maaf.. sebenarnya tak ingin ku mengumpat. Hanya sekejap euforia kegembiraan setelah kekalahan. Meski juga bukan tentang kemenangan, karena aku tak tahu apa arti menang jika kalah sekaligus ada padaku. Dan aku masih kalah sebenarnya, sembari merangkak menyusun harga diri. Musuh-musuh itu terkadang masih hinggap menyusup saat mata mulai terpejam diwaktu malam. Aku patah hati..

Acuh, aku mulai bercumbu dengan makna-makna itu. Aku terbuai dan kadang terhanyut. Mungkin kau mengerti tapi tak cukup memahami. Pun kadang kutergoda bermain rasa dengan diriku; egois! Kali ini mungkin kau bahkan tak mengerti. Aku memahami akan ketidakmengertianmu. Tapi apakah itu perlu?? Ku yakin tidak. Karena kau, seperti aku, juga telah membuat duniamu sendiri. Ku acuhkan keacuhanku. Ku pikir sejenak meluangkan waktu untuk sisi lain diri. Ku dapat dan coba kumantapkan. Berlalu waktu dan saat hendak kuutarakan…. melayang dan ku dirundung malang. Manusia memang makhluk yang sering berpolah tingkah bersalah langkah.

Pada akhirnya ku tersadar… ternyata aku hanya melamun. Bukan merenung seperti si bijak kyai dan resi. Sedikit menyimpul dari lamunan gombal; Aku dan Kamu hanya manusia biasa yang masih bernafsu menguasai.
on Jumat, 04 Januari 2013
Ia memiliki banyak nama, banyak tautan keagungan, juga tak sedikit celaan sebagai sekutu sesembahan. Dialah matahari yang kadang entah dengan tujuan apa, kita eja sebagai surya atau mentari.

Konon ia adalah satu diantara sekian banyak bintang yang bertebaran di langit. Hanya saja berbeda dengan bintang, matahari terlihat saat siang sedangkan bintang terlihat saat malam. Sepertinya mereka telah seiya berbagi peran. Begitu rapi mereka bersepakat, hingga matahari yang begitu agung diwaktu siang tetap saja tenggelam saat malam menjelang, memberikan waktu pada bintang untuk pamer keanggunan.

Seiring waktu manusia tahu, rupanya matahari tak mau begitu saja membiarkan dirinya diam tanpa peran saat malam. Bersekutu dengan bulan, ia berikan cahayanya pada bulan agar bulan berikan cahaya itu kembali untuk manusia. Matahari seperti tak mau membuang begitu saja pesona dan silau sinarnya, seolah ia ingin mengatakan pada manusia akulah kawan sejatimu karena aku paling dekat denganmu diantara bintang-bintang pengecut itu. Bintang-bintang ini jauh. Meski mungkin sebenarnya lebih menyilaukan dari matahari, tetap saja ia hanya tampak seperti titik yang menyedihkan jika tanpa kawan. Tapi tak pelak, ketika kawan-kawannya serempak datang, mereka cantik bukan kepalang. Aku tertegun. Seperti kanvas hitam yang dicoret dengan tinta warna kehidupan, bintang-bintang ini seolah berpesan jika harapan itu selalu ada. Hitam malam tak selalu berarti kelam katanya.

Sempurnalah malam jika juga bulan bersinar. Sinar yang sebenarnya bukan sinarnya. Tetapi kita tahu mereka tak bisa selalu bersama disepanjang penanggalan. Hanya saat tertentu bulan dan bintang tampak bersama. Ada saat bulan hanya sebagian menampakkan diri. Bulan sabit namanya. Begitu indah terlihat hingga sang dewa yang pernah dipuja mengambil rupa dari rupawan wajahnya. Sempurnalah malam jika demikian. Sayang sekali manusia kebanyakan terlelap, dan belum tentu bunga lelap mimpinya akan seindah tebaran bulan dan bintang. Mungkin ini takdir.

Dan matahari kembali bersinar, penanda hari mulai berganti. Manusia seolah diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Manusia dan matahari tampaknya akan bersatu membentuk makna baru yang dinamakan Keberkahan.


Pajak penghasilan adalah pajak atas tambahan kemampuan ekonomis dari wajib pajak. Tambahan kemampuan ekonomis dalam konteks perusahaan bisa artikan sebagai tambahan kekayaan bersih dari perusahaan. Tambahan kekayaan bersih dalam hal ini (pajak) adalah laba bersih atau profit. Oleh karenanya pajak penghasilan secara umum dikenakan atas laba bersih perusahaan.

Disisi lain kinerja perusahaan sangat terpengaruh oleh kondisi perekonomian makro dari suatu negara. Dan salah satu kondisi yang berdampak pada perekonomian adalah krisis global. Sehingga dengan kata lain, Krisis global membawa dampak bagi dunia usaha dan pada akhirnya berdampak pada laba perusahaan. Lesu nya konsisi perekonomian akibat krisis global bisa menyebabkan menurunnya omset operasional perusahaan yang berakibat pada turunnya laba perusahaan.

PPh pasal 25 pada dasarnya adalah angsuran pajak, yang dihitung dengan dasar penghitungannya adalah dari PPh tahunan badan/OP setelah dikurangi kredit pajak tahun sebelumnya (PPh pasal 29). Atas konsep ini, PPh pasal 25 pada dasarnya adalah suatu angsuran yang meringankan wajib pajak agar saat pembayaran pajak penghasilan badan tidak satu kali sekaligus. Dilain pihak, pemerintah sebagai pihak yang paling berkepentingan atas pembayaran pajak memerlukan biaya operasionalnya dalam tahun berjalan yang tentu saja didapat dari pajak. Oleh karenanya, PPh 25 bisa dipandang sebagai kewajiban yang ditunaikan diawal oleh wajib pajak atas kewajiban pemenuhan perpajakannya.

Atas dasar hal tersebut, PPh 25 menjadi penting. Yang perlu dicatat kemudian adalah pemenuhan kewajiban yang ditunaikan diawal oleh wajib pajak. Kewajiban seperti ini tidak bisa dianggap sebagai murni kewajiban karena adanya pemenuhan diawal tersebut. Oleh karenanya akan muncul hak sebagai konsekuensi logis dari saat pemenuhan diawal tersebut. Dan kita lihat dalam four maxims dari Adam Smith, bahwa pajak dibayar pada saat yang tepat, hak-hak inilah yang harus diakomodir dalam rangka pemenuhan dari doktrin perpajakan Adam Smith. Dan lebih dari itu, pajak sebagai wujud partisipasi masyarakat secara masif harus pula memperhatikan hak-hak pembayar pajak secara umum. Oleh karenanya kemudian, dengan adanya berbagai situasi dan kondisi yang berpotensi menghambat pemenuhan perpajakan bulanan (angsuran – PPh 25), pemerintah dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal Pajak hendaknya tanggap atas situsi tersebut. Hal bisa dilakukan oleh wajib pajak ketika kondisi keuangan perusahaannya sedang tersedat adalah mengajukan pengurangan atas pembayaran PPh 25.

Atas pengurangan pembayaran ini, telah dicantumkan secara tersurat di penjelasan pasal 25 UU PPh. Konteks yang menjelaskan adalah kondisi pembayaran pada bulan sebelum penyampaian SPT ketika terjadi pengurangan pembayaran dari yang seharusnya dibayar.

Aturan yang lebih teknis ditegaskan kemudian di Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-547/PK./2000 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Dalam Tahun Pajak Berjalan Dalam Hal-Hal Tertentu. Dalam pasal 7 ayat (1) dijelaskan bahwa apabila sesudah 3 (tiga) bulan atau lebih berjalannya suatu tahun pajak, Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa Pajak Penghasilan yang akan terutang untuk tahun pajak tersebut kurang dari 75% (tujuh puluh lima persen) dari Pajak Penghasilan yang terutang yang menjadi dasar penghitungan besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar. Disamping itu, jangan sampai hanya gara-gara pembayaran pajak maka cash flow perusahaan terganggu sehingga menghambat operasional perusahaan sehingga tidak mampu mencapai potensi laba seharusnya yang bisa dicapai, karena jika hal itu yang terjadi maka bisa berakibat pula pada pembayaran pajaknya dalam penghitungan pajak penghasilan tahunan yang semestinay dibayar.
on Sabtu, 18 Februari 2012
Ada kawan bilang, wanita adalah ciptaan Tuhan yang paling indah. Entah apa maksud si kawan, yang jelas pada saat itu ia sedang terpisah jarak dengan kekasihnya. Jika Dewa bernyanyi Hawa tercipta didunia untuk menemani sang Adam, mungkin Hawa adalah ciptaan terindah Tuhan bagi Adam.

Dengan bahasa yang sama, mungkin sang kekasih dianggap ciptaan terindah bagi si kawan. Apakah keadaan yang sama juga berlaku sebaliknya bagi si kawan?? entah. Wanita seperti obat bius, membius logika..

Ada kawan bilang, wanita seperti candu. Dan ada Marx yang mengatakan agama adalah candu. Si kawan ini mungkin terinspirasi Marx. Apakah wanita juga menghisap seperti kaum kapitalis?? Bisa ya, bisa tidak..

Ada kawan bilang, wanita adalah neraka bagiku, mirip Sarte yang mengatakan orang lain adalah neraka bagiku. Adakah wanita menghambat kebebasannya?? Entah.. Sultan-sultan bahkan menikahi banyak wanita..

Dan kawan lagi bilang aku mencintaimu maka aku ada, syair pendek yang ditujukan untuk kekasihnya. Entah apa makna ada bagi dirinya. Apakah sama dengan makna ada Descartes yang mengatakan aku berfikir maka aku ada?? Dirinya yang lebih tahu..
Ada kawan lagi bilang wanita seperti pembangkit listrik tegangan tinggi. Hanya melihat tanpa bersentuhan pun bisa membuat badan menggigil selayaknya disetrum.. oooh…

Ada kawan juga bilang wanita seperti hantu. Barangkali ada, tapi tidak ada. Dan yang lebih banyak, tidak ada tapi dianggap seakan ada. Mengada-adakan bahwa wanita pujaannya ada untuk dia, padahal wanita itu tak ada sedikitpun untuk dia. Obat patah hati paling mujarab; manipulasi persepsi..

Dan ada kawan bilang wanita adalah misteri terdalam dialam ini. Tak ada kepastian sedikitpun tentangnya; bisa ya bisa tidak, entah, mungkin, barangkali,…sssshhhh…
on Rabu, 25 Januari 2012
Rusa itu sedang kebingungan. Di depan ada dua jalan, persimpangan yang membuatnya sejenak berpikir tentang perjalanannya sampai sejauh saat itu. Di jalan sebelah kiri terlihat daun-daun begitu menggiurkan. Muda dan tentu saja lezat. Belum lagi buah-buahan yang ditumbuhkan dari pepohonannya yang rindang. Rupanya sedang musim semi, musimnya kehidupan. Musimnya alam menumbuhkan dan mencari jati dirinya. Kemudian dialihkan pandangannya ke sebelah kanan. Biasa saja dedaunan dijalan ini pikirnya. Memang sedang tumbuh dedaunan muda, tapi tampaknya tak selezat dijalan satunya. Meski belum pernah merasakan, karena inilah perjalanan pertamanya di daerah itu dan tumbuhan itu memang hanya tumbuh disitu, tetapi sesepuhnyalah yang berkata demikian. Belum lagi tambah sesepuhnya, tak jauh dari persimpangan ini bukan rimbun dedaunan yang akan ia temui, melainkan hanya ladang tandus.

Sejenak ia teringat Prabu Salya yang disambut aneka rupa jamuan dan buah-buahan oleh prajurit Duryudana diperjalanannya ke Upaplawya hingga akhirnya berperang dipihak Kurawa. Jangan-jangan ini hanya muslihat. Muslihat dari alam yang bisa saja mengalihkan tujuan perjalanannya, sebuah tujuan besar dan mulia. Bukankah ia harus sampai di perkampungan menyelamatkan kaumnya yang banyak tertawan petani?? Dan jalan sebelah kanan inilah yang akan membawanya kesana. Sejenak ia berfikir menyeimbangkan itu semua, karena ia pun butuh makan dan tentu saja ia menginginkan bekal yang sesuai dengan selera hatinya. Pun demikian ia tak ingin melanggar pesan sesepuhnya karena bagaimanapun juga merekalah yang lebih tahu tentang seluk beluk hutan ini.

Tetapi bukankah sesepuhnya belum pernah sampai ke jalan ini?? Cerita dedaunan muda ini hanya diceritakan turun temurun. Memang ada pula yang pernah membawa dedaunan ini sampai ke kampung si rusa. Tetapi pikir si rusa, dia nya saja yang tak pandai memilih, karena saat itu ia membawa dedaunan yang tak tahunya ada ulat bulu. Kalaupun ada ulat bulu, dengan kesabarannya menunggu bukanlah ia juga bisa jadi kupu-kupu yang indah? Dan saat itu, bukan kepuasan, tetapi jusru petaka yang ia dapat yang sesaat menggemparkan penghuni kampung rusa.

Sebenarnya tak terpikirkan akan ia bawa
dedaunan dari jalan kiri ini, sampai saat ia melihat seranting daun yang menggoda hatinya. Beraduk rasa ia rasakan, antara keinginan dan tujuan. Yang jelas ia harus segera menunaikan amanat kaumnya. Kalau tidak, bisa jadi kawan-kawannya yang tertawan sudah terpanggang menjadi lauk di meja petani.

Tiba-tiba ia melihat gerombolan pipit terbang disekitar dedaunan. Tatapannya terlihat serius menatap ranting yang menggoda seleranya itu. Sempat was-was, jangan-jangan ia hinggap disitu dan merusak dedaunan. Sesaat ia lega karena tak jadi pipit hinggap disitu. Belum selesai ia menghela nafas, datang burung elang. Seperti halnya burung pipit, matanya tajam mentap ranting itu. Takut elang hinggap dan merusak dedaunan. Pun demikian ia lega karena elang tak jadi hinggap. Bisa jadi inilah isyarat pikirnya, bahwa ranting itu memang ditakdirkan untukku. Mantaplah langkahnya memilih ke jalan kanan. Meski sedikit menunda seleranya, tapi bukankah ia bisa jadi bekal perjalananku pulang? Akan kupetik dedaunan diranting itu setelah selasai ku tunaikan amanat kaumku. Akan ku bawa ke kampung rusa, dan akan ku buktikan bahwa daun ini lezat dan tak berbahaya. Berjalanlah si rusa dengan riang dan penuh semangat. :)
on Selasa, 24 Januari 2012
Anak ayam suatu ketika akan besar dan menjadi pejantan yang siap diadu atau betina yang siap dibuahi untuk bertelur dan bertelur. Begitu juga si jantan anak harimau, suatu ketika akan tumbuh menjadi harimau dewasa dengan taring runcingnya yang bersiap menerkam rusa dikala lapar. Bayi mungil itu suatu saat juga akan menjadi pria dewasa, yang tentu saja akan banyak tanggungjawab yang akan diembannya. Menjadi berani, menjadi pecundang, menjadi kaya, menjadi miskin ada yang bilang kita bisa menentukan, bisa memilih dan tentu saja, harus bersiap, bisa untuk puas atau kecewa.

Menjadi tentu saja terikat oleh waktu. Menjadi itu disuatu waktu untuk kemudian menjadi sesuatu yang lain dimasa yang lain pula. Waktu ibarat menjadi saksi akan kemenjadian sesuatu, meskipun tak ada yang benar-benar bisa memastikan apakah waktu diluar dari kemenjadian, yang mengamati proses tanpa suatu ekspresipun atau justru ia adalah bagian dari kemenjadian itu dan oleh karenanya ia adalah menjadi itu sendiri.

Menjadi adalah simbol dan bukti nyata dari perubahan. Dengan menjadi, perubahan bisa “dirasakan”. Sebuah perubahan yang disadari tentu saja akan menghasilkan menjadi yang berbeda dengan perubahan tanpa kesadaran. Tidak bisa dipungkiri terkadang memang dibutuhkan semacam katalisator. Pada tahap ini, kesadaran akan kehadiran katalisator menjadi penting agar tidak terjebak pada semacam penggiringan. Semisal anak harimau yang, tentu saja tidak sadar akan perubahan yang menimpa dirinya, karena memang ia diciptakan demikian; kemenjadian seorang manusia tentu saja berbeda. Jikalau hewan dan makhluk-makhluk “tanpa” rasio hanya sebagai objek dari sebuah “hukum” kemenjadian yang digerakkan misalnya oleh alam, manusia dengan kesadarannya bisa menjadi objek sekaligus menjadi subyek dari proses menjadinya.

Bukan suatu yang mudah untuk membangkitkan kesadaran, karena itu kompleks. Tiap manusia terutama yang bersosialisasi tentu saja memiliki sebuah sikap mental yang khas, yang dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tumbuh dan dibesarkan. Belum lagi dengan karakteristik manusia, entah intelektual maupun emosional, yang mempunyai kekhasan antara satu manusia dengan yang lain, juga membuat proses menyadaran menjadi kompleks. Tentu saja juga tidak bisa menyadarkan satu orang perorang. Oleh karenanya kesadaran harus dibangkitkan secara massal.

Dan menjadi sekali lagi sangat ber-waktu. Sadar diperlukan agar tidak tergilas waktu, karena sadar berarti menaklukkan waktu, entah itu waktu yang lampau atau waktu sekarang berproses. Manusia yang dipercaya sebagai makhluk sempurna, tentu saja harus membuktikan kesempurnaan itu. Kesempurnaan disini adalah kesempurnaan dalam konteks kefanaan, karena manusia hidup didunia, dan oleh karenanya ia sangat terikat oleh waktu. Terikat oleh waktu berarti ia menjadi. Maka kesempurnaan bukan berarti stagnasi. Kesempurnaan adalah proses menjadi, dengan kata lain kemenjadian adalah bukti kesempurnaan manusia. Tanpa menjadi, jargon manusia makhluk sempurna adalah slogan kosong, sebuah “pujian” yang tak pantas diberikan.
on Senin, 31 Januari 2011
Mengingat kembali bentuk dan komposisi garis-garis itu, sepertinya bentuk (baca:simbol) memang punya makna. Unik dan tentu saja simbolis. Terkadang mempersatukan, karena dengannya sekelompok orang jadi merasa punya identitas yang divisualkan. Sebuah visualisasi yang memiliki makna tersirat; entah mulia, entah bermanfaat, despot, atau bahkan sampah. Mereka yang berbangga memakai simbol dan merekalah yang merelakan, setidaknya secara parsial, kediriannya. Ego-ego yang mulai dikompromikan, karena ini terkadang sebuah keniscayaan. Tidak menarik memang, ketika simbolisasi berujung pada seruan-seruan primordial, feodal, bahkan gender. Tapi apa daya, karena manusia terlahir dengan fakta-fakta, terlahir dengan atribut, pada akhirnya ketika harus “dipaksa” menyerah, tak berdaya karena tidak memiliki kesadaran.

Entah mengapa simbol bisa melahirkan rasa sentimental yang luar biasa, sebuah loyalitas tanpa syarat. Adalah pemaknaan yang memainkan peran besar. Elaborasi atas konsep, mungkin juga visi, dengan sentuhan filosofi sebagai awal, makna bisa menjadi dogma praktis yang siap dimainkan oleh pengikutnya. Dengan bantuan “ulama” makna, syiar simbol tak jarang merasuk sampai ke alam bawah sadar pengikutnya. Tanpa kesadaran kritis, manusia bisa menjadi debu, yang terbang entah kesana kemari kearah pemaknaan dogma. Tapi tak jarang simbol dianut setelah melalui proses pertentangan yang panjang. Entah pertentangan dalam dirinya, maupun dalam sosial kultural nya. Menurut hemat saya, idealnya seperti ini lah simbol itu dianut. Proses analitis kritis atas fenomena simbolisasi menjadi penting, sebagai awal dari konsekuensi logis ide intelektual organik. Lebih lanjut simbol-ide takkan mampu menggerakkan perubahan jikalau tak mampu mengakomodir realitas sosial. Kesadaran massal diperlukan, dan ini bisa digerakkan oleh simbol. Semacam onani budi, kurang berarti simbol jika hanya memuaskan seorang diri pribadi.

Simbol tentu saja bukan tujuan, melainkan hanya sarana. Terlepas entah apa tujuan itu, simbol cukup efektif mempersatukan, sedangkan manusia tentu saja membutuhkan identitas sebagai salah satu cara bereksistensi yang paling manjur dan murah meriah. Mungkin sudah menjadi fitrah psikologis juga bahwa manusia memerlukan identitas. Bagai barang dagangan, simbol-identitas siap dipilih dan dibeli dipasar ide manusia. Manusia tentu saja bebas memilih yang paling sesuai dengan dirinya. Tetapi seperti yang terjadi pada mekanisme pasar sempurna, distorsi selalu saja muncul. Entah disengaja, sistematis atau tidak, distorsi semacam ini sangat mengganggu. Disinilah, seperti halnya sistem perekonomian pasar, will to power sekali lagi mendapat pembenaran, bahkan dalam ide-simbol yang welas asih sekalipun, tanpa moralitas, manusia hanya menjadi santapan bagi manusia lainnya.

Bisa jadi simbol adalah salah satu mekanisme pertahanan hidup manusia. Sebuah permulaan dari tahap evolusi budaya manusia. Pada tahap selanjutnya simbol bisa mengalami pengaruh estetika, sebuah rekreasi budi, yang bisa meruntuhkan kejenuhan eksistensial manusia. Tapi bukan tak mungkin simbol menciptakan kejumudan, yang menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai makhluk yang berfikir, sebagai makhluk yang bebas. Seperti sebuah bak yang disi air untuk mandi, sayangnya bak tak pernah menolak untuk diisi air keruh, atau bahkan meminta untuk disi air jernih, meskipun pada hakikatnya air jernihlah yang diperlukan..ironis!

Pada akhirnya pemilik simbollah yang tertawa, karena simbolisasi telah berhasil dilakukan. “Dakwah” telah berhasil mendapat pengikut yang signifikan. Entah mencerahkan atau membelenggu, yang jelas barang dagangan harus laku. Kalau tidak, kegiatan produksi bisa terancam. Dan dapat dibayangkan betapa tidak menariknya dunia tanpa simbol-simbol. Seperti kain tanpa corak dan pola, tentu tak sedap dipandang mata, meskipun aku tetap tak suka simbol bintang daud dengan dua garis atas bawah jadi salah satunya… :)

“Pengetahuan adalah harta yang patut dimuliakan, perilaku baik adalah busana baru, dan pikiran adalah cermin yang jernih” (Imam Ali bin Abi Thalib kw)
on Selasa, 03 Agustus 2010
Mungkin sekedar basa-basi selayaknya aktivitas yang seringkali ditemani seduhan biji-biji kopi, atau bisa saja sebuah obrolan ringan dimana ada hal besar kadangkala bermula. Dan riwayat biji-biji kopi, tak terukur rasa terimakasih kita untuknya, yang rela menghancurkan tubuhnya (atau dengan terpaksa menghancurkan, agar ada yang namanya pertukaran) untuk sekedar menemani malam kita, menemani senda gurau bersama kawan dan karib terkasih, tapi apakah ia bermula dengan indah pada awalnya jarang dari yang mungkin mengetahui.

Dari Sidikalang, Brazil, Dataran Afrika, dan sedikit Jawa tentu saja. Tentang suatu kearifan lokal bagaimana biji itu bermula. Kadang tanpa sentuhan modernisasi, meski jelas tak bisa melepaskan diri dari kungkungan kapital. Dari dari kapital semua ini bermula. Dari sebuah hasrat, dari kelangkaan, pada akhirnya terjadi apa yang kita namakan dengan pertukaran. Tapi apakah ini sebuah pertukaran yang adil satu sama lain, ataukah penghisapan yang pada akhirnya melahirkan keterasingan-keterasingan, yang barangkali akan membawa kepada sebuah analisis kritis mengenai keteraturan sebuah pasar. Ya, barangkali kata kuncinya adalah pasar. Pasar yang bebas, pasar yang dibebaskan, atau justru pasar yang mungkin bebas??

Sejenak bisa kita lihat fakta berikut, bahwa petani-petani tak mampu membeli kopi yang ia tanam sendiri di kafe-kafe kopi bagi saya adalah sebuah ironi. Barangkali bukan wilayah petani untuk menikmati kopinya dikafe, karena petani tentu saja tidak membutuhkan obrolan tentang harga saham yang bisa saja digoreng oleh spekulan mata duitan. Ceteris paribus tentu saja masih berlaku karena kompleksnya veriabel. Tapi dimanapun sebuah perumpamaan hanya butuh satu pembuktian, bukan sikap kritis, dan nyatanya cukup sah ironi ini. Bagaimana bisa negara saudagar bisa lebih makmur dari negara penghasil. Bagaimana bisa spekulan komoditas yang tiap hari hanya duduk bisa lebih menikmati margin daripada petani. Seakan-akan dari cucuran keringat petanilah sang saudagar bisa terus meneruskan hegemoninya dan hasrat foya-foya si spekulan dibiayai. Sedangkan petani masih sibuk memikirkan bagaimana caranya menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi yang bisa seharusnya saja lebih murah, siapa lagi penyebabnya kalau bukan birokrasi. Entah koruplah, entah gobloknya, entah aroganlah, entah...Dan tentang kafe-kafe, bahkan secangkir kopinya bisa untuk membeli belasan bahkan puluhan bungkus bubuk kopi kemasan.

Nyatanya tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Selalu saja ada kelangkaan. Kafe-kafe tentu saja mengandung lebih banyak kelangkaan dari pada warung kopi pinggir jalan karena keeksklusifannya. Dan nyatanya petani sekali lagi kurang bisa menikmati margin kelangkaan yang diperjualbelikan. Mungkin masih bisa diperdebatkan, karena harga secangkir kopi masih terdapat biaya pencitraan, gaji barista, dan masih banyak lagi, tak lupa tentu saja biaya kelangkaan, bahkan mungkin biaya eksternalitas yang ditanggung para konsumen. Dan kalaupun itu benar, dan harga yang ditawarkan memang wajar, masih saja ada ironi, karena nilai-nilai kopi yang telah cukup berhasil dikomoditaskan. Pertarungan ide menjadi penting dan kreativitas hanya bisa dimunculkan oleh masyarakat yang terpelajar.

Selanjutnya mengenai regulasi, bagaimana menghasilkan komposisi harga yang lebih adil dan perlindungan bagi hak-hak kaum marjinal. Tapi regulasi dan pelaksanaan yang ada kadangkala melahirkan mentalitas foedal-borjuis yang seringkali justru kontraproduktif dengan maksud semula. Birokrasi sangat identik dengan inefisiensi, tapi tentu saja tidak bisa menyerahkan apa yang seharusnya menjadi wewenang negara kepada mekanisme pasar. Disinilah demokrasi diperlukan. Demokrasi yang sehat, dan tentu saja demokrasi yang berkeadilan sosial. Keterbukaan informasi juga tak kalah penting. Tapi justru kadangkala sumber-sumber informasi inilah terjadi penggiringan opini publik dengan segala maksud dan tujuannya. Untuk itulah diperlukan pembangunan intelektualitas personal yang kredibel dan berkualitas, meski tidak menjamin akan menghilangkan masalah-masalah yang ada, terutama masalah inefisiensi. Bukan dunia namanya kalau tanpa masalah. Hingga pada akhirnya, semua orang akan tersadar, hanya orang-orang yang memiliki ide dan mewujudkannya yang akan mengusai dunia.